Tampilkan postingan dengan label GAYA HIDUP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GAYA HIDUP. Tampilkan semua postingan

HUKUM MENINDIK TELINGA PADA BAYI

PERTANYAAN :
Bagai mana hukum menindik kuping bayi wnita untuk perhiasan.?
JAWABAN :
Lihat Mughni al-Muhtaj, Juz IV, Hlm. 296  :
(فَائِدَةٌ) قَالَ فِي اْلإِحْيَاءِ لاَ أَدْرِيْ رُخْصَةً فِي تَثْقِيْبِ أُذُنِ الصَّبِيَّةِ ِلأَجْلِ تَعْلِيْقِ حُلِيِّ الذَّهَبِ أَيْ أَوْ نَحْوِهِ فِيْهَا، فَإِنَّ ذَلِكَ جُرْحٌ مُؤْلِمٌ، وَمِثْلُهُ مُوْجِبٌ لِلْقِصَاصِ، فَلاَ يَجُوْزُ إلاَّ لِحَاجَةٍ مُهِمَّةٍ كَالْفَصْدِ وَالْحِجَامَةِ وَالْخِتَانِ. وَالتَّزَيُّنُ بِالْحُلِيِّ غَيْرُ مُهِمٍّ، فَهَذَا وَإِنْ كَانَ مُعْتَادًا فَهُوَ حَرَامٌ، وَالْمَنْعُ مِنْهُ وَاجِبٌ، وَاْلإِسْتِئْجَارُ عَلَيْهِ غَيْرُ صَحِيْحٍ، وَاْلأُجْرَةُ الْمَأْخُوْذَةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ اهـ
"(Faidah); Berkata Imam Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, Aku belum tahu keterangan yang memberikan kelonggaran hukum dalam melubangi kuping wanita kecil untuk dibuat menggantungkan perhiasan emas (anting-anting).
Sesungguhnya hal itu adalah melukai yang sangat menyakitkan. Dan seperti itu bisa menetapkan qishas. Hal itu tidak boleh dilakukan kecuali untuk kebutuhan yang sangta mendasar, seperti untuk pengobatan bekam atau khitan. Sementara berhias dengan emas itu bukanlah hal penting. Melubangi telinga karena untuk menggantungkan perhiasan walaupun ini telah umum itu hukumnya haram dabn mencegahnya hukumnya wajib. Menyewa sesorang untuk hal itu atau bekerja untuk hal itu hukumnya tidak sah dan ongkos yang diterimanya hukumnya haram".

وجوزه الزركشي واستدل بما في حديث أم زرع في الصحيح، وفي فتاوى قاضي خان من الحنفية أنه لا بأس به لانهم كانوا يفعلونه في الجاهلية فلم ينكر عليهم رسول الله (ص)، وفي الرعاية للحنابلة يجوز في الصبية لغرض الزينة.ويكره في الصبي
Imam Azzarkasyi menghukumi boleh, berangkat dari hadits kisah Ummu Zaro'. Dalam fatwa-fatwa Qodli Khoni (ulama hanafi) menghukumi tidak apa-apa karena, kata beliau, sohabat dulu melakukannya ketika masih jahiliyyah dan Rosul tidak mengingkarinya. Dalam Arri'ayah (madzhab Hanbali), boleh menindik telinga anak perempuan dengan tujuan sebagai perhiasan dan makruh untuk anak laki-laki. [ Fathul Mu'in 4/199 ].
نعم في خبر للطبراني بسند رجاله ثقات عن ابن عباس أنه عد من السنة في الصبي يوم السابع أن تثقب آذانه وهو صريح في جوازه للصبي فالصبية أولى إذ قول الصحابي من السنة كذا في حكم المرفوع وبهذا يتأيد ما ذكر عن قاضي خان فالأوجه الجواز
[ Hasyiyah Aljamal 10/156 ].
Ada riwayat dari Imam Thobroni bahwa Ibnu Abbas berkata: termasuk sunnah yaitu melubangi telingan anak laki-laki pada hari ke tujuh. dan khobar ini menunjukkan kebolehan untk anak alki-laki APALAGI untuk anak perempuan.

Menindik/membolongi (tastqib) telinga anak laki2 yg msh kcil haram,sdgkan bg anak perempuan yg msh kecil hukumnya khilaf :
§menurut imam ghozali HARAM, krena d anggap mnyakiti tnp adaya hajat atau tujuan yg jelas.-menurut imam zarkasyi BOLEH,brdsarkan dalil dlm hadist ummu zar'in.
§dalam kitab fatawi qodlikhon dari imam hanafi hukumya TIDAK MASALAH(la ba'sa),krena hal itu(mmbolongi telinga anak kecil)prnah d lakukan olh orang2 pada zaman jahiliyyah dan nabi SAW tdk mgingkari(tdk melarang) hal itu.
§dalam kitab Ar ro'iyyah madzhab hanabilah hukumya BOLEH bg anak perempuan yg masih kecil jika brtujuan hiasan(ghordliz ziinah)dan MAKRUH bg anak laki2 yg sh kecil.

§menurut syaikhuna dlm kitab syarah minhaj hukumya BOLEH bg anak perempuan yg masih kecil dan haram bg anak laki2 yg msh kecil krn hal itu merupakan hiasan dlm haqnya wanita yg msh kecil. [ i'anatut tholibin 4/175-178 ]. wa allahu a'lamu.

MEMAKAI PACAR KUKU

PERTANYAAN :
Bagaimana hukum bagi seorang gadis memakai pacar kuku (kembang) ato pitek/cat kuku?
JAWABAN :
Hukum mengenakan pacar kuku bagi wanita ada tiga pendapat :
- Boleh, selain dengan pacar kuku warna hitam.
- Boleh bagi wanita bersuami atau hamba sahaya memakai pacar kuku warna hitam, bila telah mendapat izin.
- Mutlak sunah menurut al-Baghawi bagi wanita bersuami memakai pacar dengan cara apapun.
Sedangkan hukum mengenakan pacar kuku bagi laki-laki ada tiga pendapat :
- Haram menurut syafi’iyyah, memandang illat tasabbuyh dengan pewarna kuku yang termasuk aksesoris wanita.
- Makruh menurut sebagian hanabilah dan hanafiah.
- Boleh menurut Ibnu Qudamah.
Poin pembahasannya terletak pada kajian ‘tathrif’, meskipun yang lebih dominan diulas dalam referensi klasik adalah ‘khidhab’, di mana khidhab di situ dimaksudkan lebih general sebagai pewarnaan tangan dan kaki, mulai dari ujung sampai pergelangan tangan/kaki, baik kuku maupun kulitnya. Pembahasan khidhab cukup berbeda dengan tathrif dan hanya sedikit bersinggungan terutama ketika dikaitkan dengan khidab pada laki-laki. Hemat saya, sekedar untuk memudahkan, khidab adalah pewarna kulit, dan tathrif adalah pewarna kuku. Wallahu subhanahu wata’ala a’lam.
R e f e r e n s i
الاِخْتِضَابُ لُغَةً : اسْتِعْمَال الْخِضَابِ . وَالْخِضَابُ هُوَ مَا يُغَيَّرُ بِهِ لَوْنُ الشَّيْءِ مِنْ حِنَّاءَ وَكَتَمٍ وَنَحْوِهِمَا. وَلاَ يَخْرُجُ الْمَعْنَى الاِصْطِلاَحِيُّ عَنِ الْمَعْنَى اللُّغَوِيِّ
التَّطْرِيفُ لُغَةً : خَضْبُ أَطْرَافِ الأْصَابِعِ ، يُقَال : طَرَفَتِ الْجَارِيَةُ بَنَانَهَا إِذَا خَضَّبَتْ أَطْرَافَ أَصَابِعِهَا بِالْحِنَّاءِ ، وَهِيَ مُطَرِّفَةٌ
الكتاب : الموسوعة الفقهية الكويتية ج2 ص278-277
“Ikhtidhab secara bahasa adalah: pemakaian khidhab, sedang khidhab yaitu sesuatu yang bisa merubah warna suatu obyek entah dengan hina’, katam, atau sejenisnya. Makna istilahnya tidak berbeda dengan makna bahasa.
Tathrif secara bahasa adalah: pewarnaan pacar pada ujung jari, diucapkan [gadis itu memacari jemarinya, ketika memacari ujung jarinya dengan hina’].
وعبارة الكردي: قوله: ويحرم الحناء للرجل.
خرج به المرأة، ففيها تفصيل، فإن كان لاحرام استحب لها سواء كانت مزوجة.
أو غير مزوجة، شابة أو عجوزا وإذا اختضبت عمت اليدين بالخضاب.
وأما المحدة: فيحرم عليها، والخنثى كالرجل.
ويسن لغير المحرمة إن كانت حليلة وإلا كره.
ولا يسن لها نقش وتسويد وتطريف وتحمير وجنة، بل يحرم واحد من هذه على خلية ومن لم يأذن لها حليلها.
الكتاب : حاشية إعانة الطالبين ج2 ص387
“Al-Kurdi berkata: pewarna pacar haram bagi laki-laki. Dikecualikan bagi wanita maka ada pemilahan, jika hendak ihram maka disunahkan baginya baik sudah bersuami maupun belum, muda maupun tua, di mana ketika memakai pacar diwarnai menyeluruh pada kedua tangannya. Sedangkan wanita yang sedang iddah maka haram, serta pada banci maka sebagaimana haramnya laki-laki.
Bagi selain wanita berihram, disunahkan memakai pacar bagi wanita bersuami, bila belum bersuami maka makruh.
Tidak disunahkan bagi wanita mengecat kuku, mewarnai hitam, memacar kuku, serta memerahi pipi, bahkan haram hal tersebut untuk wanita yang belum bersuami maupun wanita yang tidak mendapat ijin suami atau tuannya.”
ويحرم أيضا تجعيد شعرها ونشر أسنانها وهو تحديدها وترقيقها والخضاب بالسواد وتحمير الوجنة بالحناء ونحوه وتطريف الأصابع مع السواد
الكتاب : حاشية الجمل ج2 ص430
“Diharamkan juga mengeriting rambut wanita, merenggangkan giginya yakni dengan mempertajam dan menipiskannya, mewarnai dengan pacar hitam, memerahi pipi dengan hina’ dan sejenisnya, serta memacari jari-jari besertaan warna pacarnya hitam.”
( قَوْلُهُ : وَتَطْرِيفُ ) قَالَ ابْنُ الرِّفْعَةِ وَالْمُرَادُ بِالتَّطْرِيفِ الْمُحَرَّمِ تَطْرِيفُ الْأَصَابِعِ بِالْحِنَّاءِ مَعَ السَّوَادِ أَمَّا بِالْحِنَّاءِ وَحْدَهُ فَلَا شَكَّ فِي جَوَازِهِ شَرْحُ الْعُبَابِ وَكَذَا يَنْبَغِي أَنْ يُقَالَ فِي النَّقْشِ سم
الكتاب : تحفة المحتاج ج14 ص484
“Wa tathrif: Ibnu Rif’ah dalam Syarh ‘Ubab berkata bahwa yang dimaksud tathrif yang diharamkan adalah mewarnai kuku dengan pacar besertaan warnanya hitam, sedangkan hukum pacar semata (tanpa tambahan hitam) maka tidak diragukan lagi kebolehannya. Ibnu Qasim al-’Ubadi menambahkan, begitu juga ketentuan warna hitam ini berlaku dalam hukum pengecatan kuku.”
ويحرم تَجْعِيدُهُ أَيْ الشَّعْرِ وَوَشْرُ الْأَسْنَانِ أَيْ تَحْدِيدُهَا وَتَرْقِيقُهَا لِلتَّغْرِيرِ وَلِلتَّعَرُّضِ لِلتُّهْمَةِ فِيهِمَا وَلِلْخَبَرِ السَّابِقِ في الثَّانِي وَالْخِضَابُ بِالسَّوَادِ لِخَبَرِ يَكُونُ قَوْمٌ يَخْضِبُونَ في آخَرِ الزَّمَانِ بِالسَّوَادِ كَحَوَاصِلِ الْحَمَامِ لَا يَرِيحُونَ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ رَوَاهُ أبو دَاوُد وَغَيْرُهُ وَتَحْمِيرُ الْوَجْنَةِ بِالْحِنَّاءِ أو نَحْوِهِ وَتَطْرِيفُ الْأَصَابِعِ بِهِ مع السَّوَادِ لِلتَّعَرُّضِ لِلتُّهْمَةِ إلَّا بِإِذْنِ زَوْجٍ أو سَيِّدٍ لها في جَمِيعِ ما ذُكِرَ بَعْدَ قَوْلِهِ حَرَامٌ فَيَجُوزُ لها ذلك لِأَنَّ له غَرَضًا في تَزَيُّنِهَا له وقد أَذِنَ لها فيه وَخَالَفَ في التَّحْقِيقِ في الْوَصْلِ وَالْوَشْرِ فَأَلْحَقَهُمَا بِالْوَشْمِ في الْمَنْعِ مُطْلَقًا
الكتاب : أسنى المطالب ج1 ص173
“Diharamkan mengeriting rambut dan merenggangkan giginya yakni dengan mempertajam dan menipiskannya karena rentan manipulasi dan berpraduga negatif pada dirinya dalam dua perkara tadi, haramnya pacar warna hitam juga dikarenakan hadits [akan ada kaum di akhir jaman yang mewarnai dengan pacar hitam sebagaimana hitamnya tembolok burung dara, mereka tidak bisa mencium bau surga, HR. Abu Dawud dan lainnya].
[Diharamkan juga] memerahi pipi dengan hina’ atau sejenisnya serta memacari jari-jari besertaan warna pacarnya hitam, sebab menimbulkan pandangan negatif masyarakat, kecuali atas ijin suami atau tuannya maka boleh semua hal yang diharamkan tadi. Hal itu karena suami berhak atas pelayanan bersolek dari istrinya sedangkan dia telah mengijinkan. Namun an-Nawawi dalam kitab Tahqiq tidak sepakat mengenai hukum menyambung rambut dan merenggangkan gigi, ia menyamakannya dengan hukum tato yakni mutlak haram.”
وكذا يُسْتَحَبُّ خَضْبُ كَفَى الْمَرْأَةِ الْمُزَوَّجَةِ وَالْمَمْلُوكَةِ وَقَدَمَيْهَا بِذَلِكَ لِأَنَّهُ زِينَةٌ وَهِيَ مَطْلُوبَةٌ منها لِزَوْجِهَا أو سَيِّدِهَا تَعْمِيمًا لَا تَطْرِيقًا وَلَا نَقْشًا
الكتاب : أسنى المطالب ج1 ص173
“Begitu juga disunahkan memacari kedua telapak tangan dan kaki wanita bersuami atau hamba sahaya karena itu adalah aksesoris baginya. Hal itu ditujukan untuk suami atau tuannya dengan cara meratakan pemakaian pacar bukan dengan cara memacari atau mengecat ujung jarinya semata.”
واما الخضاب بالحناء فمستحب للمرأة المزوجة في يديها ورجليها تعميما لا تطريفا ويكره لغيرها وقد اطلق البغوي وآخرون استحباب الخضاب للمرأة ومرادهم المزوجة
الكتاب : المجموع شرح المهذب ج3 ص140
“Mewarnai dengan pacar disunahkan bagi wanita bersuami pada kedua tangan dan kakinya, dengan cara diratakan bukan sebatas ujung jari, serta makruh bagi selain wanita bersuami. Namun al-Baghawi dan lainnya memutlakkan hukum sunah memakai pacar bagi wanita, yakni wanita yang telah bersuami.”
نَصَّ الشَّافِعِيَّةُ عَلَى أَنَّهُ يَحْرُمُ نَقْشُ يَدِ الْمَرْأَةِ الْمُحْرِمَةِ بِالْحِنَّاءِ ، وَكَذَا تَطْرِيفُ الأْصَابِعِ وَتَسْوِيدُهَا لِمَا فِيهِ مِنَ الزِّينَةِ وَإِزَالَةِ الشَّعَثِ الْمَأْمُورِ بِهِ فِي الإْحْرَامِ
الكتاب : الموسوعة الفقهية ج41 ص149
“Asy-Syafi’i menegaskan haramnya mengecat tangan wanita yang berihram dengan hina’, begitu juga memacari kuku dan menghitamkannya, sebab memandang hal itu merupakan aksesoris serta menjadikan hilangnya penampilan kusut yang diperintahkan dalam ihram.”
قوله ( بشيء منه ) أي من المذكور وهو الحناء
وقوله فتستر لون البشرة وإذا فعلت ذلك لا يجوز النظر ليديها مخضوبتين والحرمة باقية وإنما أفاد الخضب نوع ستر في الجملة سم
قوله ( وخرج بالمرأة لرجل ) شامل للأمرد الجميل
قوله ( بل يحرم ) أي لغير عذركما نص عليه الإمام الشافعي ومحل الحرمة في البدن فلا ينافي سن خضب لحيته بالحناء وكذا بالسواد في الجهاد ليظهر للكفار شبابه وقوته
الكتاب : حاشية البجيرمي على شرح منهج ج2 ص117
“[Dengan sesuatu darinya] yakni dari hina’ yang telah disebutkan
[Menutupi warna kulit] ketika hal itu sudah dilakukan tetap tidak boleh melihat kedua tangan wanita yang diberi pacar itu, hukum haramnya tetap, fungsi khidhab sebagai penutup kulit hanya memandang secara global saja.
[Dikecualikan dari wanita yaitu pada lelaki] termasuk di dalamnya pemuda berwajah manis.
[Bahkan haram] yakni tanpa adanya udzur sebagaimana yang ditegaskan oleh asy-Syafi’i, letak keharamannya di badan, sehingga tidak menegasikan sunahnya khidhab jenggot dengan pewarna hina’, begitu juga dengan pewarna hitam dalam medan perang untuk mendemonstrasikan fisik belia dan kekuatannya pada kaum kafir.”
اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لِلرَّجُل أَنْ يَخْتَضِبَ فِي رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ لِتَغْيِيرِ الشَّيْبِ بِالْحِنَّاءِ وَنَحْوِهِ لِلأْحَادِيثِ الْوَارِدَةِ فِي ذَلِكَ ، وَجَوَّزُوا لَهُ أَنْ يَخْتَضِبَ فِي جَمِيعِ أَجْزَاءِ بَدَنِهِ مَا عَدَا الْكَفَّيْنِ وَالْقَدَمَيْنِ ، فَلاَ يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَخْتَضِبَ فِيهِمَا إِلاَّ لِعُذْرٍ ؛ لأِنَّ فِي اخْتِضَابِهِ فِيهِمَا تَشَبُّهًا بِالنِّسَاءِ، وَالتَّشَبُّهُ بِالنِّسَاءِ مَحْظُورٌ شَرْعًا
وَقَال أَكْثَرُ الشَّافِعِيَّةِ وَبَعْضُ الْحَنَابِلَةِ بِحُرْمَتِهِ . وَقَال بَعْضُ الْحَنَابِلَةِ وَصَاحِبُ الْمُحِيطِ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ بِكَرَاهَتِهِ وَقَدْ قَال رَسُول اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - لَعَنَ اللَّهُ الْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَال وَالْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَال بِالنِّسَاءِ . وَحُكْمُ الْخُنْثَى الْمُشْكِل كَحُكْمِ الرَّجُل فِي هَذَا
الكتاب : الموسوعة الفقهية ج2 ص284
“Para fuqaha sepakat disunahkannya bagi lelaki untuk mewarnai pacar pada rambut kepala dan jenggotnya untuk merubah warna uban sesuai dengan keterangan beberapa hadits, mereka juga memperbolehkan mewarnai pacar pada seluruh bagian anggota tubuhnya selain kedua telapak tangan dan kakinya, maka pada dua anggota tadi tidak diperbolehkan kecuali dengan adanya udzur, sebab memandang pewarnaan pacar pada keduanya menyerupai keadaan wanita, di mana hukum menyerupai wanita adalah haram.
Kebanyakan ulama syafi’iah dan sebagian hanabilah berpendapat tentang keharamannya. Sebagian yang lain dari hanabilah serta pengarang kitab Muhith dari hanafiah berpendapat makruh. Rasulullah bersabda: Allah melaknat golongan wanita yang menyerupai lelaki dan golongan lelaki yang menyerupai wanita. Status hukum khuntsa musykil sebagaimana lelaki dalam masalah ini.”
وَسُئِلَ رَحِمَهُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ما حُكْمُ حِنَّاءِ يَدَيْ الرَّجُلِ وَرِجْلَيْهِ فَأَجَابَ نَفَعَنَا اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِعُلُومِهِ بِقَوْلِهِ حُكْمُ حِنَّاءِ يَدَيْ الرَّجُلِ وَرِجْلَيْهِ أَنَّهُ لِغَيْرِ ضَرُورَةٍ حَرَامٌ على الْمُعْتَمَدِ عِنْدَ النَّوَوِيِّ وَغَيْرِهِ لِأَنَّهُ من زِينَةِ النِّسَاءِ
الكتاب : الفتاوى الكبرى الفقهية ج4 ص257
“Ditanyakan: apa hukum memakai pacar pada kedua tangan dan kaki lelaki ?. Dijawab: hukum pemakaian pacar pada kedua tangan dan kaki lelaki, selain dalam kondisi darurat, haram menurut pendapat yang mu’tamad dari an-Nawawi dan ulama lainnya, sebab termasuk aksesoris bagi wanita.”
فأما الخضاب للرجل فذكر الشيخ أنه لا بأس به فيما لا تشبه فيه بالنساء; لأن الأصل الإباحة, ولا دليل للمنع, وأطلق في المستوعب: له الخضاب بالحناء, وقال في مكان آخر: كرهه أحمد "قال أحمد": لأنه من الزينة.
الكتاب : كتاب الفروع ج5 ص532

“Adapun mengenai memakai pacar pada lelaki, Ibnu Qudamah berpendapat hal itu tidak masalah pada perkara yang tidak dianggap menyerupai wanita, sebab hukum asal adalah boleh, serta tidak ada dalil yang melarangnya. Di dalam kitab al-Mustau’ab ia memutlakkannya bahwa boleh bagi lelaki memakai pewarna pacar, di tempat lainnya ia berkomentar bila Ahmad Ibn Hanbal memakruhkannya, Imam Ahmad berkata: sebab hal itu termasuk aksesoris wanita.”

HUKUM PENJUALAN PAKAIAN SEKSI, MINI DLL

PERTANYAAN :
apa hukumnya memproduksi dan menjual celana leging .?
JAWABAN :
PENJUALAN PAKAIAN SEKSI, MINI, TOPLESS DLL adalah Haram, jika diyakini atau diduga kuat akan digunakan untuk maksiat, karena termasuk menolong kemaksiatan.
وَيَحْرُمُ بَيْعُ الشَّئْ ِالْحَلالِ الطَّاهِرِ عَلَى مَنْ تُعُلِّمَ أَنَّهُ يُرِيْدُ أَنْ يَعْصِيَ بِهِ كَبَيْعِ َنْحِو عِنَبٍ لِمَنْ يَتَّخِذُهُ خمَرْاً وَلَوْ لِكَافِرٍ وَسِلاحٍ لِمَنْ يَقْتُلُ بِهِ نَفْسَهَ أَوْ غَيْرَهُ قَتْلا مُحَرَّمًا وَبِوَصٍّ يَتَّخِذُهُ مَزَامِيْرَ وَشَبْكَةً لِمَنْ يَصْطَادُ بِهَا فِى الْمُحَرَّامِ وَمَمْلُوْكِ اَمْرَدٍ لِمَنْ عُرِفَ باِلْفُجُوْرِ فِيْهِ وَأُمِّهِ لِمَنْ يَتَّخِذُهَا لِغِنَاءٍ مُحَرَّمٍ وَثَوْبِ الْحَرِيْرِ لِلُبْسِ رَجُلٍ بِلا ضَرُوْرَةٍ وَمَحَلُّ تَحْرِيْمِ بَيْعِ ذَلِكَ لِمَنْ ذُكِرَ إِذَا تّحَقَّقَ أَوْ ظُنَّ أَنَّهُ يَفْعَلُ ذَلِكَ فَإِنْ شُكَّ فِيْهِ أَوْ تَوَهُّمُهُ فَالْبَيْعُ مَكْرُوْهٌ وَهَذَا لا يَقْتَضِي الْبُطْلانَ إِلا إِذَا بَاعَ السِّلاح لِحَرْبِيٍّ وَإِنَّمَا حُرِمَ هَذَا الْبَيْعُ يَتَسَبَّبُ فِى الْحَرَامِ فَكَانَ تَصَرُّفٌ يُؤَدِّى إِلَى مَعْصِيَّةٍ حَرَامٍ كَمَا أَفَادَ ذَلِكَ الشَّرْقَاوِى اهـ
Dan haram menjual sesuatu yang halal dan suci pada orang yang diketahui akan mempergunakannya untuk maksiat seperti menjual buah anggur pada orang yang hendak menjadikannya minuman keras meskipun pada orang kafir, menjual pisau pada orang yang hendak menjadikannya sebagai alat membunuh dirinya atau orang lain dengan pembunuhan yang diharamkan, menjual buluh pada yang hendak menjadikannya alat musik, pukat pada orang yang hendak menggunakannya berburu hewan yang diharamkan, budak laki-laki cakap pada orang yang terkenal melakukan kecabulan dengannya, budak wanita pada orang yang hendak menjadikannya biduanita yang diharamkan, menjual pakaian sutera untuk pria tanpa adanya darurat.
Keharaman diatas bila memang diyakini atau diduga kuat barang yang ia jual pada seseorang hendak dijadikan sarana untuk maksiat sedang bila ia ragu-ragu atau hanya sekedar mengira-ngira hokum menjualnya makruh, namun demikian meskipun penjualannya haram bukan berarti menjadikan akad jualnya tidak sah kecuali saat ia menjual pedang pada kafir harby (kafir yang memusuhi dan memerangi muslim).
Dalih keharaman penjualan diatas karena sama halnya dirinya ikut andil dalam menfasilitasi terjadinya hal yang haram sementara segala jenis tindakan yang dapat mengakibatkan terjadinya maksiat hukumnya haram,hal ini diungkapkan oleh As-Syarqawy. [ Sullam at-Taufiiq Hal. 59 ].
قوله فلو باع الخمر إلخ قال السبكي روى الترمذي لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم في الخمر عشرة عاصرها ومعتصرها الحديث وجه الاحتجاج أن العاصر كالبائع في أن كلا منهما يعين على معصية مظنونة قوله وكبش النطاح ممن يعانى ذلك والثوب الجر ولمن يلبسه من الرجال والحرير لمن يعمل منه الكلوثات والأكياس والذهب ممن يعمله مطرز للرجال ر تنبيه أفتي ابن الصلاح ببيع أمة على امرأة تحملها على الفجور أي أن تعين طريقا وقوله أفتى ابن الصلاح إلخ أشار إلى تصحيحه قوله أو باع السلاح من البغاة قال الجرجاني ويحرم بيع العنب ممن يعصره خمرا والسلاح ممن يستعمله في المعاصي
[ Hasyiyah ar-Romly II/41 ].

Wallaahu A'lamu Bis Showaab.

HUKUM MENCUKUR ALIS

PERTANYAAN :
Apa hukumnya mencukur/mencabuti bulu alis (bagi yg sudah menikah/belum menikah*). *katanya 0rang tua jaman dahulu kan bagi yg belum menikah katanya tdk b0leh Terimakasih..
JAWABAN :
HASIL KEPUTUSAN BAHTSUL MASA'IL DINIYAH FMPP KE XXI DI PP. LIRBOYO KEDIRI
Hukumnya Khilaf :
1.Menurut jumhurul ulama' : wanita yang bersuami diperbolehkan mengerik alisnya apabila ada izin dari suami atau qorinah yang menunjukan adanya izin dari suami. Sedangkan wanita yang tidak bersuami hukum mengerik alis tidak diperbolehkan, namun sebagian ulama' memperbolehkannya apabila diperlukan untuk pengobatan atau hal tersebut merupakan aib, dengan syarat tidak tadlis pada orang lain.
2.Hukumnya makruh apabila alisnya panjang. Namun menurut sebagian ashab imam Ahmad hukumnya boleh secara mutlak bahkan imam Ahmad pernah melakukannya.
Referensi.
1. Mausu’ah Fiqhiyah quwaitiyah juz 15 hal. 69 2. Al Majmu’ ala Syarhil muhadzab juz 1 hal. 290
• الموسوعة الفقهية الكويتية - (ج 15 / ص 69)
اتّفق الفقهاء على أنّ نتف شعر الحاجبين داخل في نمص الوجه المنهيّ عنه بقوله صلى الله عليه وسلم : « لعن اللّه النّامصات ، والمتنمّصات » . واختلفوا في الحفّ والحلق ، فذهب المالكيّة والشّافعيّة إلى أنّ الحفّ في معنى النّتف . وذهب الحنابلة إلى جواز الحفّ والحلق ، وأنّ المنهيّ عنه هو النّتف فقط . وذهب جمهور الفقهاء إلى أنّ نتف ما عدا الحاجبين من شعر الوجه داخل أيضاً في النّمص ، وذهب المالكيّة في المعتمد وأبو داود السّجستانيّ ، وبعض علماء المذاهب الثّلاثة الأخرى إلى أنّه غير داخل . واتّفق الفقهاء على أنّ النّهي عن التّنمّص في الحديث محمول على الحرمة ، ونقل عن أحمد وغيره أنّ النّهي محمول على الكراهة . وجمهور العلماء على أنّ النّهي في الحديث ليس عامّا ، وذهب ابن مسعود وابن جرير الطّبريّ إلى عموم النّهي ، وأنّ التّنمّص حرام على كلّ حال . وذهب الجمهور إلى أنّه لا يجوز التّنمّص لغير المتزوّجة ، وأجاز بعضهم لغير المتزوّجة فعل ذلك إذا احتيج إليه لعلاج أو عيب ، بشرط أن لا يكون فيه تدليس على الآخرين . قال العدويّ : والنّهي محمول على المرأة المنهيّة عن استعمال ما هو زينة لها ، كالمتوفّى عنها والمفقود زوجها . أمّا المرأة المتزوّجة فيرى جمهور الفقهاء أنّه يجوز لها التّنمّص ، إذا كان بإذن الزّوج ، أو دلّت قرينة على ذلك ، لأنّه من الزّينة ، والزّينة مطلوبة للتّحصين ، والمرأة مأمورة بها شرعا لزوجها . ودليلهم ما روته بكرة بنت عقبة أنّها سألت عائشة رضي الله عنها عن الحفاف ، فقالت : إن كان لك زوج فاستطعت أن تنتزعي مقلتيك فتصنعيهما أحسن ممّا هما فافعلي . وذهب الحنابلة إلى عدم جواز التّنمّص - وهو النّتف - ولو كان بإذن الزّوج ، وإلى جواز الحفّ والحلق . وخالفهم ابن الجوزيّ فأباحه ، وحمل النّهي على التّدليس ،أو على أنّه كان شعار الفاجرات.
• المجموع شرح المهذب - (ج 1 / ص 290)
وأما الاخذ من الحاجبين إذا طالا فلم أر فيه شيئا لاصحابنا وينبغى أن يكره لانه تغيير لخلق الله لم يثبت فيه شئ فكره: وذكر بعض أصحاب احمد انه لا بأس به: قال وكان احمد يفعله

Diperbolehkan mencabut alis (tanmish) bagi wanita yg sudah menikah dan diberi izin oleh suaminya
و يحرم بغير إذن زوج و سيد وصل شعر بغيرهما و كالشعر الخرق و الصوف كما قال في المجموع و تجعيد الشعر و وشر الأسنان-إلى أن قال- و التنميص وهو الأخد من شعر الوجه و الحاجب للحسن لما في ذلك من التغرير أما إذا أذن لها الزوج أو السيد في ذلك فإنه يجوز لأن له غرضا في تزيينها له و قد أذن لها فيه ~مغني المحتاج ١/١٩١
Dan haram tanpa izin suami (bagi istri) dan tanpa izin sayyid (bagi budak) hal hal berikut ini :
1. menyambung rambut
2. mengkeritingkan rambut
3. meruncingkan gigi
4. memakai semir hitam
5. mencabut alis dan rambut di wajah

Dan jika si wanita sudah mendapat izin dari sang suami maka hal-hal di atas hukumnya boleh karena ia mempunyai tujuan yang jelas (berhias untuk suami). [ ~mughnil muhtaj 1/191 ].

Pria Memakai Kalung

PERTANYAAN  :
Apa hukumnya laki'' memakai kalung ?? Kalung emas / kalung perak / kalung mainan / bahkan kalung dari stainlees steel, menurut pandangan islam bagaimana ??
JAWABAN :
 Diperbolehkan dengan catatan :
1. Bukan terbuat dari bahan emas atau perak menurut mayoritas ulama sedangkan al-Mutawally dan al-Ghozaly memperbolehkan kalung dari bahan perak bagi laki-laki
2. Bukan tergolong perhiasan yang khusus dipakai oleh wanita
قال أصحابنا يجوز للرجل خاتم الفضة بالاجماع وأما ما سواه من حلي الفضة كالسوار والمدملج والطوق ونحوها فقطع الجمهور بتحريمها وقال المتولي والغزالي في الفتاوى يجوز لانه لم يثبت في الفضة الا تحريم الاواني وتحريم التشبه بالنساء والصحيح الاول لان في هذا تشبها بالنساء وهو حرام
Berkata Para Pengikut Madzhab Suafi’i “Boleh bagi laki-laki memakai cincin perak dengan kesepakatan ulama sedang untuk perhiasan lainnya semacam gelang tangan, gelang lengan, kalung dsb menurut mayoritas ulama mengharamkannya.
Berkata al-Mutawally dan al-Ghozali “Boleh memakai perhiasan-perhiasan diatas yang terbuat dari perak karena yang diharamkan dalam barang yang terbuat dari perak sebatas barang-barang perkakas dan adanya unsure penyerupaan dengan wanita”. Namun yang shahih adalah pendapat pertama karena dalam masalah ini terjadi penyerupaan dengan wanita yang diharamkan. [ Al-Majmu’ alaa Syarh al-Muhadzdzab IV/444 ].
يجوز للرجل التختم بالفضة لما روى أنه (اتخذ خاتما من فضة) وهل له لبس ما سوى الخاتم من حلي الفضة كالسوار والدملج والطوق لفظ الكتاب يقتضي المنع حيث قال ولا يحل للرجال إلا التختم به وبه قال الجمهور وقال ابو سعيد المتولي إذا جاز التختم بالفضة فلا فرق بين الاصابع وسائر الاعضاء كحلي الذهب في حق النساء فيجوز له لبس الدملج في العضد والطوق في العنق والسوار في اليد وغيرها وبهذا أجاب المصنف في الفتاوى وقال لم يثبت في الفضة إلا تحريم الاواني وتحريم التحلي علي وجه يتضمن التشبه بالنساء –إلى أن قال- ويحرم علي النساء تحلية آلات الحرب بالذهب والفضة جميعا لان في استعمالهن لها تشبها بالرجال وليس لهن التشبه بالرجال هكذا ذكره الجمهور واعترض عليه صاحب المعتمد بأن آلات الحرب من غير ان تكون محلاة إما ان يجوز للنساء لبسها واستعمالها أو لا يجوز (والثانى) باطل لان كونه من ملابس الرجال لا يقتضى التحريم إنما يقتضي الكراهة ألا ترى انه قال في الام ولا اكره للرجل لبس اللؤلؤ إلا للادب وانه من زى النساء لا للتحريم فلم يحرم زى النساء علي الرجال وإنما كرهه فكذلك حكم العكس
Boleh bagi laki-laki memakai cincin perak karena diriwayatkan bahwa baginda nabi memakai cincin dari perak, bolehkah baginya memakai perhiasan selain cincin semacam gelang tangan, gelang lengan, kalung dsb yang terbuat dari perak ? Redaksi Kitab mengarah pada tidak bolehnya seperti ungkapan Pengarang “Dan tidak boleh bagi laki-laki kecuali perhiasan cincin dari perak” Dan yang demikian juga pendapat mayoritas Ulama namun Abu Sa’id al-Mutawally menyatakan “Bila memakai cincin perak dihalalkan maka tidak dibedakan kehalalan memakainya baik terpakai dijemari atau anggauta tubuh lainnya sebagaimana kelegalan perhiasan emas bagi wanita, maka boleh bagi laki-laki memakai gelang lengan, kalung dileher, gelang ditangan dsb” dst…….. [ Syarh al-Wajiiz VI/28 ].
(مسألة: ي): ضابط التشبه المحرم من تشبه الرجال بالنساء وعكسه ما ذكروه في الفتح والتحفة والإمداد وشن الغارة، وتبعه الرملي في النهاية هو أن يتزيا أحدهما بما يختص بالآخر، أو يغلب اختصاصه به في ذلك المحل الذي هما فيه.

Batasan penyerupaan yang di haramkan pada kasus penyerupaan orang laki-laki pada perempuan dan sebaliknya adalah apa yang diterangkan oleh Ulama Fiqh dalam kitab Fath aljawaad, Tuhfah, Imdaad dan kitab syun alghooroh. Imam Romli juga mengikutinya dalam kitab Annihaayah, Batasannya adalah : "Bila salah satu dari lelaki atau wanita tersebut berhias memakai barang yang dikhususkan untuk lainnya atau pakaian yang jamak di gunakan pada tempat tinggal lelaki dan wanita tersebut". [ Bughyah Almustarsyidiin 604 ]. Wallaahu A'lamu Bis Showaab

HUKUM MEMAKAI PECI

PERTANYAAN :
1) kopiah, peci, dan segala macam penutup kepala untuk pria itu sunnah Rasul atau sekadar budaya yang sehingga tidak berdampak pada hukum syar'i wajib, sunnah, haram?
2) saya pernah dengar bahwa lelaki yang gundulan (tidak menutup kepala) maka dia fasik dan setiap kesaksiannya dalam hukum tidak diterima. Mengapa bisa demikian ?
JAWABAN :
1. Hukumnya sunnah bagi laki-laki saat sholat, memasuki kamar kecil dan didaerah yang kebiasaan tempatnya memakai tutup kepala.
Memakai PECI sudah dapat mencukupi kesunahan memakai sorban sebagian para Masyayikh menyatakan kebagusannya terutama dikalangan pengikut Syekh Abdul Qadir al-Jailany
Referensi :
أن لبس القلنسوة البيضاء يغني عن العمامة فيحصل به اصل العمامة
[ Durr al-Ghamaamah hal. 2 ]
لبس القلنسوة البيضاء يغني عن العمامة ، وبه يتأيد ما اعتاده بعض مدن اليمن من ترك العمامة من أصلها
[ Bughyah al-Mustarsyidiin I/182 ]
وَسُئِلَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ عن سَنَدِهِ في الْخِرْقَةِ فقال أَمَّا لُبْسُ الْقَلَنْسُوَةِ أو الْعِمَامَةِ أو الثَّوْبِ فَمِنْ الْمَشَايِخِ من اسْتَحْسَنَهُ بِمَنْزِلَةِ خِلَعِ الْمُلُوكِ ولم يَرَهُ آخَرُونَ إذْ لم يَرِدْ أَنَّهُ صلى اللَّهُ عليه وسلم كُسِيَ ثَوْبًا قال وقد كُنْت لَبِسْت خِرْقَةَ التَّصَوُّفِ من طُرُقِ جَمَاعَةٍ أَبْيَنُهَا طَرِيقُ شَيْخِ الْإِسْلَامِ أبي مُحَمَّدٍ عبد الْقَادِرِ
[ Al-Fataawaa al-Fiqhiyyah al-Kubraa I/266 ]
2. Ia, betul bila di daerah yang masyarakatnya membiasakan diri bertutup kepala
Referensi :
( لا يصلي أحدكم في الثوب الواحد ليس على عاتقه منه شيء ) رواه البخاري 1/498 ومسلم رقم 516 ، والله أعلم .
Janganlah salah seorang kalian shalat dalam satu pakaian yang diatas bahunya tidak terdapat sesuatupun (HR Bukhari I/498, Muslim hadits No 516
الصَّلاَةُ بِالْعِمَامَةِ :
11 - اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى اسْتِحْبَابِ سَتْرِ الرَّأْسِ فِي الصَّلاَةِ لِلرَّجُل بِعِمَامَةٍ وَمَا فِي مَعْنَاهَا ؛ لأَِنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي بِالْعِمَامَةِ .
أَمَّا الْمَرْأَةُ فَوَاجِبٌ سَتْرُ رَأْسِهَا .
وَنَصَّ الْحَنَفِيَّةُ عَلَى كَرَاهَةِ صَلاَةِ الرَّجُل مَكْشُوفَ الرَّأْسِ إِذَا كَانَ تَكَاسُلاً لِتَرْكِ الْوَقَارِ ، لاَ لِلتَّذَلُّل وَالتَّضَرُّعِ
(1) انْظُرْ مُصْطَلَحَ : ( رَأْس ف 5 )
(1) انظر مراقي الفلاح وحاشية الطحطاوي عليه ( 197 ) ط . الثانية ببولاق مصر 1318هـ .
[ SHALAT memakai SORBAN ] Ulama Fiqh sepakat akan kesunahan menutup kepala bagi laki-laki dalam shalat dengan memakai sorban dan sejenisnya karena nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam shalat dengan memakai sorban, sedang bagi wanita wajib menutup kepalanya.
Kalangan Hanafiyyah menilai makruh bagi laki-laki shalat dengan terbuka kepalanya karena malas sebab dapat mengurangi kewibawaan bukan karena unsure merendahkan diri dihadapan Allah. [  Al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah XXX/304 ].
قال امام الحرمين والغزالي والبغوى وآخرون يستحب أن لايدخل الخلاء مكشوف الرأس قال بعض أصحابنا فان لم يجد شيئا وضع كمه علي رأسه ويستحب أن لايدخل الخلاء حافيا ذكره جماعة منهم أبو العباس بن سريج في كتاب الاقسام وروى البيهقى باسناده حديثا مرسلا أن النبي صلى الله عليه وسلم (كان إذا دخل الخلاء لبس حذاءه وغطى رأسه)
Berkata Imam Haramain, al-Ghozali, al-Baghowy dan ulama-ulama lainnya “Disunahkan bagi seseorang untuk tidak memasuki kamar kecil (WC) tanpa penutup kepala, berkata pengikut as-Syafi’i bila tidak menjumpai sesuatu maka letakkan lengan bajunya diatas kepalanya, juga disunahkan untuk tidak memasuki kamar kecil dengan tidak memakai alas kaki (seperti yang dituturkan oleh segolongan ulama diantaranya Abu al-Abbas Bin Suraij dalam kitab al-Aqsaam. “Adalah Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam saat memasuki kamar kecil memakai sepatunya dan menutup kepalanya” (HR Baehaqy). [ Al-majmuu’ alaa Syarh al-Muhaddzab II/92 ].
(فصل)
ولا تقبل شهادة من لا مروءة له كالقوال والرقاص ومن يأكل في الاسواق ويمشى مكشوف الرأس في موضع لا عادة له في كشف الرأس فيه لان المروءة هي الانسانية، وهى مشتقة من المرء، ومن ترك الانسانية لم يؤمن أن يشهد بالزور، ولان من لا يستحيى من الناس في ترك المروءة لم يبال بما يصنع، والدليل عليه ما روى أبو مسعود البدرى رضى الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال (ان مما أدرك الناس من كلام النبوة الاولى إذا لم تستحى فاصنع ما شئت)
[FASAL] Dan tidak diterima persaksian seseorang yang tidak memiliki keperwiraan (wibawa) seperti orang yang banyak bicara, para penari, orang yang suka makan dipasar, jalan ditempat yang kebiasaan masyarakatnya tertutup kepalanya sebab keperwiraan bersifat manusiawy dan barangsiapa meninggalkan sesuatu yang bersifat manusiawy pemberian saksi palsunya tidak dirasa aman (sangat mungkin bersaksi palsu) dan karena seseorang yang sudah hilang rasa malunya pada orang lain tidak lagi memerdulikan apa yang telah ia perbuat.
Dalil yang dibuat sandaran dalam masalah ini adalah riwayat dari Abu Mas’ud al-Badry bahwa Nabi Muhammad bersabda “Sesungguhnya sebagian yang ditemukan dari kalam nubuwwat yang paling utama oleh orang adalah : Bila tidak ada rasa malu, maka berbuatlah semaumu..!!”. [ Al-majmuu’ alaa Syarh al-Muhaddzab XX/227 ].
وَالْمُرُوءَةُ تَخَلُّقٌ بِخُلُقِ أَمْثَالِهِ فِي زَمَانِهِ وَمَكَانِهِ، فَالْأَكْلُ فِي سُوقٍ، وَالْمَشْيُ مَكْشُوفَ الرَّأْسِ، وَقُبْلَةُ زَوْجَةٍ وَأَمَةٍ بِحَضْرَةِ النَّاسِ، وَإِكْثَارُ حِكَايَاتٍ مُضْحِكَةٍ، وَلُبْسُ فَقِيهٍ قُبَاءَ وَقَلَنْسُوَةٍ حَيْثُ لَا يُعْتَادُ، وَإِكْبَابٌ عَلَى لَعِبِ الشِّطْرَنْجِ أَوْ غِنَاءٍ أَوْ سَمَاعِهِ، وَإِدَامَةُ رَقْصٍ يُسْقِطُهَا، وَالْأَمْرُ فِيهِ يَخْتَلِفُ بِالْأَشْخَاصِ وَالْأَحْوَالِ وَالْأَمَاكِنِ،

Keperwiraan (wibawa) adalah beretika sesuai dengan kalangan, waktu dan tempatnya. Karenanya seperti makan dipasar, berjalan dengan kepala terbuka, mencium istri atau amat (sahaya wanita) dihadapan orang, banyak bercerita yang membuat tertawa, memakai pakaian laksana orang ahli fiqh Qubba, memakai peci yang tidak menjadi kebiasaan (setempat), hobby bermain catur, bernyanyi atau mendengarkannya, dan hobi berjoget dapat meruntuhkan keperwiraan. Dan segalanya memang berbeda-beda sesuai karakter, situasi dan kondisinya. [ Al-Manhaj li an-Nawaawy I/497 ]. Wallaahu A'lamu Bis Shawaab.

HUKUM MEMAKAI KAOS KAKI BAGI PEREMPUAN


PERTANYAAN :
bagaiman hukum memakai kaos kaki bagi perempuan, baik ditinjau dari nash maupun qoul ulama muktabar...
JAWABAN :
AURAT WANITA :
و منها : المرأة في العورة لها أحوال : حالة مع الزوج : و لا عورة بينهما و في الفرج وجه و حالة مع الأجانب : و عورتها كل البدن حتى الوجه و الكفين في الأصح و حالة مع المحارم و النساء : و عورتها ما بين السرة و الركبة و حالة في الصلاة :
و عورتها كل البدن إلا الوجه و الكفين و صرح الإمام في النهاية : بأن الذي يجب ستره منها في الخلوة هي العورة الصغرى و هو المستور من عورة الرجل
1. Bersama suami :
Tiada batasan aurat baginya saat bersama suami, semua bebas terbuka kecuali bagian FARJI (alat kelamin wanita) yang terjadi perbedaan pendapat di antara Ulama
2. Bersama lelaki lain :
Menurut pendapat yang paling shahih seluruh tubuhnya hingga wajah dan kedua telapak tangannya, menurut pendapat yang lain wajah dan telapaknya boleh terbuka
3. Bersama lelaki mahramnya dan sesama wanita :
Auratnya diantara pusar dan lutut
4. Di dalam sholat :
Seluruh tubuh menjadi auratnya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya
5. Saat sendiri :
Menurut Imam Romli dalam Kitab Nihaayah al-Muhtaaj aurat wanita saat sendiri adalah 'aurat kecil' yaitu aurat yang wajib ditutup oleh seorang lelaki (antara pusar dan lutut). [ Asybaah wa An-Nadhooir I/410 ].

Dengan demikian bila kaos kaki merupakan salah satu sarana untuk menutupi aurat kakainya saat diluar rumah atau bersama laki-laki lain berarti dia telah menjalankan ajaran sesuai tuntunannya. Wallaahu A'lamu Bis Showaab

Hukum Membuat Tato

PERTANYAAN :
TATO.. skrng jd trend d kalangan anak2 muda , gk cuma laki-laki, yg prempuan pun gk kalah banyak.. Katanya seni.. bagaimana hukum menurut islam ?? 
JAWABAN :
Tato ada 2 macam :
1. permanen sulit hilang.model ini tinta ada dibawah kulit cr masukkan tinta dngn jarum.yg jns ini wudhu/junub sah krn g menghalangi sampenya air kekulit.
2. non permanen tinta diluar kulit.jns ini wudhunya g sah.
Dua-duanya Hukum membuatnya haram.

فرع لو دخلت شوكة في اسبعه مثلا وصار رأسها ظاهرا غير مستور فإن كانت بحيث لو قلعت بقى موضعها مجوفا وجب قلعها ولا يصح غسل اليدين او الرجلين مع بقائها وإن كانت لو قلعت لا يبقى موضعها مجوفا بل يلتحم وينطبق لم يجب قلعها وصح غسل اليدين
[ Bujaiirimi alal manhaj 1/71 ].

Hukum membikin TATTO satu paket dengan hukum memakai BEHEL atau PANGUR, HARAM
وَعَنْ اَبِيْ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ اَنَّهُ قَالَ: لَعنَ اللّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِِِمَاتِ وَالمُتَنَمِّصَاتِ وَالمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ المُتَغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللهِ, فَقَالَتْ لَهُ إِمْرَاءَةٌ فِى ذَلِكَ، فَقَالَ: وَمَا لِى لأَلْعَنُ مَنْ لَعَنَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِى كِتَابِ اللهِ، قَال اللهٌ تَعَالَى: وَمَا آتَاكُمْ الرَسُولُ فَخُذُوه وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فانْتَهُوا. مُتَّفَقْ عَلَيْهِ
Diriwayatkan dari Ibn Mas'ud ra bahwasanya beliau telah berkata: Allah melaknat para wanita yang bertato dan para wanita yang minta ditato, para wanita yang menyuruh wanita lain untuk mencabuti bulu alisnya agar menjadi tipis dan tampak indah dan para wanita yang merenggangkan gigi mereka sedikit untuk kecantikan dan para wanita yang mengubah ciptaan Allah. Ada seorang wanita yang berkata kepada beliau dalam hal tersebut, kemudian beliau berkata: "Bagaimana aku tidak melaknat orang yang dilaknat oleh Rasulullah saw, sedangkan hal itu disebutkan dalam al Quran", Allah ta’ala berfirman: Apa saja yang rasul datangkan kepadamu, maka ambillah dan apa saja yang Rasul melarang kepada kamu sekalian, maka hentikanlah. Telah disepakati kesahihannya oleh Imam Bukhori dan Muslim. [ Kitab Dalilul Falikhin juz 4 hal 494 ].
ويحرم نمص (وهو نتف الشعر من الوجه)، ووَشْر (أي برد الأسنان لتحدد وتفلج وتحسن)، ووشْم (وهو غرز الجلد بإبرة حتى يخرج الدم ثم حشوه كحلاً أو نيلة ليخضر أو يزرق بسبب الدم الحاصل بغرز الإبرة)، ووصل شعر بشعر، لقوله صلّى الله عليه وسلم : «لعن الله الواشمات والمستوشمات، والنامصات والمتنمصات، والمتفلجات للحسن، المغيرات خلق الله» (3) أي الفاعلة، والمفعول بها ذلك بأمرها، واللعنة على الشيء تدل على تحريمه؛ لأن فاعل المباح لا تجوز لعنته.
__________
(3) رواه الجماعة عن ابن مسعود، ورواه الجماعة أيضاً عن ابن عمر: «لعن الله الواصلة والمستوصلة،والواشمة والمستوشمة» وهم صحيحان (نيل الأوطار: 190/6) والواصلة: هي التي تصل شعر امرأة بشعر امرأة أخرى، لتكثر به شعر المرأة. والمستوصلة: هي التي تطلب أن يفعل بها ذلك، ويقال لها: موصولة. والوشم حرام على الفاعل والمفعول به. والمتنمصات: جمع متنمصة: وهي التي تطلب نتف الشعر من وجهها، والنامصة: المزيلة شعرها من نفسها أو من غيرها، والمتفلجات جمع متفلجة وهي التي تبرد ما بين أسنانها والثنايا والرباعيات. قال الطبري: لا يجوز للمرأة تغيير شيء من خلقتها التي خلقها الله عليها بزيادة أو نقص، التماس حسن، لا للزوج ولا لغيره، .كمن تكون مقرونة الحاجبين، فتزيل ما بينهما توهم البلج وعكسه (تحفة الأحوذي بشرح الترمذي: 67/1).
Al-Fiqh al-Islaam I/410
- وَمِنْ أَنْوَاعِ الْجِرَاحَةِ أَيْضًا مِنْ أَجْل التَّزَيُّنِ : مَا اعْتَادَهُ بَعْضُ النَّاسِ مِنَ الْوَشْمِ وَالْوَشْرِ الْوَارِدَيْنِ فِي حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَال : قَال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَعَنَ اللَّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ ، (2) وَالنَّامِصَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ ، وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللَّهِ ، (1) وَفِي رِوَايَةٍ : نَهَى عَنِ الْوَاشِرَةِ (2) .
قَال الْقُرْطُبِيُّ : هَذِهِ الأُْمُورُ مُحَرَّمَةٌ ، نَصَّتِ الأَْحَادِيثُ عَلَى لَعْنِ فَاعِلِهَا ؛ وَلأَِنَّهَا مِنْ بَابِ التَّدْلِيسِ ، وَقِيل : مِنْ بَابِ تَغْيِيرِ خَلْقِ اللَّهِ تَعَالَى . (3)
__________
(2) الوشم : أن يغرز في العضو إبرة أو نحوها حتى يسيل الدم ثم يحشي بنورة أو غيرها فيخضر . والواشمات جمع واشمة وهي : التي تشم ، والمستوشمات جمع مستوشمة وهي التي تطلب الوشم .
(1) حديث : " لعن الله الواشمات والمستوشمات . . . " أخرجه مسلم ( 3 / 1678 - ط الحلبي ) من حديث عبد الله بن مسعود رضي الله عنه ، وفي رواية : نهى عن الواشرة . أخرجه أحمد في مسنده وصححه أحمد شاكر . ( المسند 6 / 22 - ط المعارف ) .
(2) والوشر : أن تحد الأسنان بمبرد ليتباعد بعضها عن بعض قليلا تحسينا لها .
(3) تفسير القرطبي 5 / 392 ، 393 ، وفتح الباري 10 / 372 .
Al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah XI/273
( تتمة ) تجب إزالة الوشم وهو غرز الجلد بالإبرة إلى أن يدمى ثم يذر عليه نحو نيلة فيخضر لحمله نجاسة هذا إن لم يخف محذورا من محذورات التيمم السابقة في بابه أما إذا خاف فلا تلزمه الإزالة مطلقا
وقال البجيرمي إن فعله حال عدم التكليف كحالة الصغر والجنون لا يجب عليه إزالته مطلقا وإن فعله حال التكليف فإن كان لحاجة لم تجب الإزالة مطلقا وإلا فإن خاف من إزالته محذور تيمم لم تجب وإلا وجبت ومتى وجبت عليه إزالته لا يعفى عنه ولا تصح صلاته معه
ثم قال وأما حكم كي الحمصة فحاصله أنه إن قام غيرها مقامها في مداواة الجرح لم يعف عنها ولا تصح الصلاة مع حملها وإن لم يقم غيرها مقامها صحت الصلاة ولا يضر انتفاخها وعظمها في المحل ما دامت الحاجة قائمة وبعد انتهاء الحاجة يجب نزعها
فإن ترك ذلك من غير عذر ضر ولا تصح صلاته  اه
I’aanah at-Thoolibiin I/107
TATTO
Hukum bertatto HARAM. Menghilangkan tatto bila dilakukan saat seseorang sudah mukallaf (dewasa dan berakal), tidak dipaksa, tahu keharamannya, tanpa kepentingan, bisa dihilangkan maka wajib menghilangkannya, bila tidak maka tidak wajib. Wudhu, shalat dan menjadikan imam orang yang bertatto sah
الكتاب : الإقناع في حل ألفاظ أبى شجاع 1/ 139القول في حكم الوشم فروع: الوشم وهو غرز الجلد بالابرة حتى يخرج الدم ثم يذر عليه نحو نيلة ليزرق أو يخضر بسبب الدم الحاصل بغرز الجلد بالابرة حرام للنهي عنه، فتجب إزالته إن لم يخف ضررا يبيح التيمم، فإن خاف لم تجب إزالته ولا إثم عليه بعد التوبة، وهذا إذا فعله برضاه بعد بلوغه وإلا فلا تلزمه إزالته، وتصح صلاته وإمامته ولا ينجس ما وضع فيه يده مثلا إذا كان عليها وشم.
BAHASAN TATTO :
Tatto ialah tanda pada tubuh yang dihasilkan dengan cara menusukkan jarum pada tubuh hingga mengeluarkan darah kemudian meninggalkan warna membiru atau menghijau dari bekas tusukan jarum tersebut, perbuatan semacam ini dilarang berdasarkan hadits Nabi
وَعَنْ اَبِيْ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ اَنَّهُ قَالَ: لَعنَ اللّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِِِمَاتِ وَالمُتَنَمِّصَاتِ وَالمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ المُتَغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللهِ, فَقَالَتْ لَهُ إِمْرَاءَةٌ فِى ذَلِكَ، فَقَالَ: وَمَا لِى لأَلْعَنُ مَنْ لَعَنَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِى كِتَابِ اللهِ، قَال اللهٌ تَعَالَى: وَمَا آتَاكُمْ الرَسُولُ فَخُذُوه وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فانْتَهُوا. مُتَّفَقْ عَلَيْهِ
Diriwayatkan dari Ibn Mas'ud ra bahwasanya beliau telah berkata: Allah melaknat para wanita yang bertato dan para wanita yang minta ditato, para wanita yang menyuruh wanita lain untuk mencabuti bulu alisnya agar menjadi tipis dan tampak indah dan para wanita yang merenggangkan gigi mereka sedikit untuk kecantikan dan para wanita yang mengubah ciptaan Allah. Ada seorang wanita yang berkata kepada beliau dalam hal tersebut, kemudian beliau berkata: "Bagaimana aku tidak melaknat orang yang dilaknat oleh Rasulullah saw, sedangkan hal itu disebutkan dalam al Quran", Allah ta’ala berfirman: Apa saja yang rasul datangkan kepadamu, maka ambillah dan apa saja yang Rasul melarang kepada kamu sekalian, maka hentikanlah. Telah disepakati kesahihannya oleh Imam Bukhori dan Muslim. [ Kitab Dalilul Falikhin juz 4 hal 494 ].
Dan bagi yang sudah terlanjur memakainya wajib menghilangkannya sedapat mungkin bila memang tidak menimbulkan bahaya pada dirinya dengan bahaya yang dapat diperkenankan seseorang menjalani tayammum, bila khawatir menimbulkan bahaya maka tidak wajib menghilangkannya dan ia juga tidak berdosa karenanya bila memang ia telah bertaubat.Ketentuan ini (wajib menghilangkannya) saat tattoo tersebut dilakoni dengan kerelaannya (tidak dipaksa) waktu ia sudah baligh/dewasa, bila terdapat sebelum dewasa atau dipaksa saat membuatnya maka tidak wajib dihilangkan.Shalat dan menjadikan imam orang bertatto dihukumi sah, dan tinak menjadi najis akibat semacam tangan disentuhkan pada anggauta tubuh yang terdapat tattonya. (IQNAA' I/139).
والنقاء عما منع وصول ماء جسما….وليس منه طبوع عسر زواله كوشم فيعفي عنه
Di antara syarat-syarat wudhu adalah bersih dari segala hal yang dapat mencegah sampainya air pada tubuh, dan tidak tergolong mencegah sampainya air tera yang sulit dihilangkan seperti tattoo maka hukumnya dima’fu (dimaafkan). [ Inaarah ad-Dujaa hal. 60 ].
الكتاب : حاشية البجيرمي على الخطيب 4 / 55( الْوَشْمُ ) وَهُوَ غَرْزُ الْإِبْرَةِ فِي الْجِلْدِ حَتَّى يَخْرُجَ الدَّمُ ثُمَّ يَذُرَّ عَلَيْهِ نَحْوَ نِيلَةٍ لِيَخْضَرَّ أَوْ يَزْرَقَّ ا هـ ا ج .قَوْلُهُ : ( فَفِيهِ التَّفْصِيلُ الْمَذْكُورُ ) وَهُوَ أَنَّهُ إذَا فَعَلَهُ مُكَلَّفٌ مُخْتَارٌ عَالِمٌ بِالتَّحْرِيمِ بِلَا حَاجَةٍ وَقَدْرَ عَلَى إزَالَتِهِ لَزِمَتْهُ ، وَإِلَّا فَلَا .فَإِذَا فُعِلَ بِهِ فِي صِغَرِهِ أَوْ فَعَلَهُ مُكْرَهًا أَوْ جَاهِلًا بِالتَّحْرِيمِ أَوْ لِحَاجَةٍ وَخَافَ مِنْ إزَالَتِهِ مَحْذُورَ تَيَمُّمٍ فَلَا تَلْزَمُهُ إزَالَتُهُ وَصَحَّتْ صَلَاتُهُ وَإِمَامَتُهُ ، وَعُلِمَ مِنْ ذَلِكَ أَنَّ مَنْ فَعَلَ الْوَشْمَ بِرِضَاهُ فِي حَالِ تَكْلِيفِهِ ، وَلَمْ يَخَفْ مِنْ إزَالَتِهِ مَحْذُورَ تَيَمُّمٍ مَنَعَ ارْتِفَاعَ الْحَدَثِ عَنْ مَحَلِّهِ لِتَنَجُّسِهِ وَإِلَّا عُذِرَ فِي بَقَائِهِ مُطْلَقًا وَحَيْثُ لَمْ يُعْذَرْ فِيهِ وَلَاقَى مَاءً قَلِيلًا أَوْ مَائِعًا أَوْ رَطْبَا نَجَّسَهُ ، كَذَا أَفْتَى بِهِ الْوَالِدُ شَرْحُ م ر .
Tatto ialah tanda pada tubuh yang dihasilkan dengan cara menusukkan jarum pada tubuh hingga mengeluarkan darah kemudian meninggalkan warna membiru atau menghijau dari bekas tusukan jarum tersebut.Hukum menghilangkan tatto bila dilakukan saat seseorang sudah mukallaf (dewasa dan berakal), tidak dipaksa, tahu keharamannya, tanpa kepentingan, bisa dihilangkan maka wajib menghilangkannya, bila tidak maka tidak wajib.Maka bila dilakukan saat ia masih kecil, dipaksa, tidak tahu keharamannya, karena ada keperluan, khawatir timbul bahaya yang hingga diperbolehkan baginya tayaammum maka tidak wajib menghilangkannya dan sahlah shalat serta menjadikan imam dia.Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa orang yang menjalaninya setelah ia mukallaf atas dasar kerelaan, tidak menimbulkan bahaya saat menghilangkannya dengan bahaya yang memperkenankan menjalani tayammum maka terhalanglah hilangnya hadats dari tempat dari anggauta tubuh yang ditatto karena kenajisannya, bila tidak dalam ketentuan diatas (mukallaf atas dasar kerelaan, tidak menimbulkan bahaya saat menghilangkannya dengan bahaya yang memperkenankan menjalani tayammum) maka dianggap udzur keberadaannya.Keberadaan tattoo yang tidak dianggap udzur bila bertemu dengan air sedikit atau barang cair lainnya atau sesuatu yang basah dapat menjadikan kenajisannya. [ Bujairomi alaa al-Khothiib IV/55 ]. Wallaahu a'lamu Bis Showaab.

WUDHU DAN SHOLATNYA ORANG YANG BERTATO

PERTANYAAN :
Syahkah wudhu dan mandi junubnya org yg punya tato..?
JAWABAN :
Adapun waudhu dan mandinya tetap sah, sebagaimana dalam kitab Qurratul 'Ain bifatawaa Ismail Zain halaman 49 berikut :
سؤال . ماقولكم فيمن غرز فى أعضاء وضوءه او فى سائر بدنه بالإبرة مثلا ووضع محله نحو حبر للتلوين والتصوير فإذا التحم بعد ذلك فهل يصح وضوؤه وكذلك غسله اولا ؟ الجواب : نعم يصح وضوؤه وغسله مع كونه إثما بذلك الفعل يجب عليه التوبة وإزالته ان لم يؤد الى ضرر لأنه نوع من الوشم ففعله غير جائز ولكن الوضوء والغسل معه صحيحان للضرورة لأنه داخل الجلد ملتحم عليه فلا يمنع صحة الوضوء والغسل لكونه داخل البشرة والصلاة معه صحيحة للضرورة.
Terjemah fatwa Syeikh Isma'il Zain : Bagiamana pendapat anda tentang orang yang mencocok pada anggota wudhunya atau disemua badannya dengan jarum misalnya, kemudian dia meletakkan tinta ditempat yang dicocok tsb dengan tujuan mewarnai atau melukis. Ketika merapat (tumbuh daging diatasnya) setelah itu, apakah sah wudhunya, begitu juga mandinya atau tidak ?

Benar, sah wudhu dan mandinya, namun dia berdosa dengan perbuatan itu, dia wajib bertaubat, dan wajib menghilangkannya jika memang tidak mendatangkan bahaya, karena itu termasuk WASYM, yang membuatnya tidak boleh, akan tetapi wudhu dan mandi dengan keduanya sah karena darurat, karena itu didalam kulit yang telah merapat (tumbuh daging di atasnya), maka tidak menghalng-halangi sahnya wudhu dan mandi karena itu didalam kulit. Shalat dengannya sah karena darurat.  Wallaahu A'lam.

BERPOLA PERILAKU DAN GAYA HIDUP MIRIP ORANG KAFIR

PERTANYAAN :
Sebatas mana meniru pola prilaku dengan orang kafir (tasyabbuh bil kuffar) yang diharamkan syari'at ?
JAWABAN :
BERIKUT SEDIKIT RINCIAN TASYABBUH dengan ORANG KAFIR :
v Bila penyerupaan (TASYABBUH) nya dengan tujuan meniru orang kafir untuk turut menyemarakkan kekafirannya maka hukumnya menjadi kafir.
v Bila penyerupaan (TASYABBUH) nya dengan tujuan hanya meniru tanpa disertai untuk turut menyemarakkan kekafirannya hukumnya tidak kafir namun berdosa.
v Bila TASYABBUH nya tidak sengaja meniru sama sekali tetapi sekedar menjalani sesuatu yang kebetulan sama dengan mereka maka tidak haram tetapi makruh.
(مسألة : ي) : حاصل ما ذكره العلماء في التزيي بزي الكفار أنه إما أن يتزيا بزيهم ميلاً إلى دينهم وقاصداً التشبه بهم في شعائر الكفر ، أو يمشي معهم إلى متعبداتهم فيكفر بذلك فيهما ، وإما أن لا يقصد كذلك بل يقصد التشبه بهم في شعائر العيد أو التوصل إلى معاملة جائزة معهم فيأثم ، وإما أن يتفق له من غير قصد فيكره كشد الرداء في الصلاة.
Kesimpulan dari pernyataan ulama tentang berbusana dengan menyerupai orang-orang kafir adalah jika dalam berbusana dengan mereka itu karena adanya rasa suka kepada agama mereka dan bertujuan untuk bisa serupa dengan mereka dalam syiar-syiar kafir atau agar bisa bepergian bersama mereka ketempat-tempat peribadatan mereka maka dalam dua hal diatas dia menjadi kafir, namun jika tidak bertujuan semacam itu yakni hanya bisa sekedar menyerupai mereka dalam syiar-syiar hari raya atau sebagai media agar bisa bermuamalah berhubungan dengan mereka dalam hal-hal yang diperkenankan maka ia berdosa (tidak sampai kafir, red), atau ia setuju dengan busana orang kafir tanpa suatu tujuan apapun maka hukumnya makruh seperti mengikat selendang dalam shalat. [ Bughyah al-Mustarsyidiin I/529 ].
فَالْحَاصِلُ أَنَّهُ إِنْ فَعَلَ ذَلِكَ بِقَصْدِ التَّشَبُّهِ بِهِمْ فِي شِعَارِ الْكُفْرِ كَفَرَ قَطْعاً أَوْ فِي شِعَارِ الْعِيْدِ مَعَ قَطْعِ النَّظَرِ عَنِ الْكُفْرِ لَمْ يَكْفُرْ، وَلَكِنَّهُ يَأْثَمُ وَإِنْ لَمْ يَقْصِدِ التَّشَبُّهَ بِهِمْ أَصْلاً وَرَأْساً فَلاَ شَيْءَ عَلَيْهِ
"Ketika berpakaian (tingkah laku) menyerupai orang kafir, untuk syi’ar kekafirannya maka ia kafir dengan pasti ….s/d … seandainya tidak bertujuan menyerupai mereka sama sekali tidak apa-apa baginya tetapi itu makruh".
قَالَ الشَّيْخُ أَبُوْ مُحَمَّدٍ بْنُ أَبِي حَمْزَةَ نَفَعَ اللهُ مَا مُلَخَّصُهُ ظَاهِرًا لِلَفْظِ الزَّجْرِ عَنِ التَّشَبُّهِ فِي كُلِّ شَيْئٍ، كَذَا عُرِفَ مِنَ اْلأَدِلَّةِ اْلأُخْرَى أَنَّ الْمُرَادَ التَّشَبُّهُ فِي الزِّيِّ وَبَعْضِ الصِّفَاتِ وَنَحْوِهَا لاَ التَّشَبُّهُ فِي أُمُوْرِ الْخَيْرِ.

"Syekh Abu Muhammad bin Abi Hamzah berkata menurut dhoirnya lafadz adalah melarang menyerupai pada setiap sesuatu (dari kafir) begitu juga dalil-dalil lain mengatakan. Maksudnya menyerupai (orang-orang kafir yang dihukumi haram) adalah menyerupai dalam pakaian, hiasan, sifat-sifatnya dan sesamanya bukan menyerupai dalam urusan kebaikan". [ Fathul Barri X/ 273 ]. Wallaahu A'lamu Bis Showaab

Hukum Rambut palsu ( WIG )

PERTANYAAN :
Bagaimana hukum membuat, menjual dan memakai rambut palsu (wig) yang terbuat dari selain rambut anak adam ?
JAWABAN :
Sedikit ulasan tentang menyambung dan hal yang menyerupai rambut Menyambung rambut pada dasarnya di larang dalam hukum islam, karena mengkibatkan unsur zuur (penipuan) dan taghyiir alkhilqoh (merubah ciptaan Allah) dan tidak menghormati atas bagian tubuh rambut orang lain sedang Islam benci sekali terhadap perbuatan menipu dan tidak menerimakan karya Allah, karenanya Nabi muhammad SAW melarang perbuatan ini
لَعَنَ اللَّهُ الْوَاصِلَةَ وَالْمُسْتَوْصِلَةَ
“Rasulullah s.a.w. melaknat perempuan yang menyambung rambut atau minta disambungkan rambutnya.” (HR.Bukhari Muslim).
Namun bila yang dipakai sebagai penyambung rambut tersebut bukan sesuatu yang menimbulkan kesan penipuan karena bentuk sambungannya bukan rambut atau hal yang menyerupai rambut, hukumnya boleh.
ووصل شعر الآدمي بشعر نجس أو شعر آدمي حرام للخبر السابق ولأنه في الأول مستعمل للنجس العيني في بدنه وفي الثاني مستعمل لشعر آدمي والآدمي يحرم الانتفاع به وبسائر أجزائه لكرامته وكالشعر الخرق والصوف كما قاله في المجموع قال : وأما ربط الشعر بخيوط الحرير الملونة ونحوها مما لا يشبه الشعر فليس بمنهي عنه
Menyambung rambut dengan menggunakan rambut najis atau rambut anak adam hukumnya haram berdasarkan hadits diatas dan karena memakaikan barang najis dalam dirinya (dalam masalah pertama) serta mengambil keuntungan dari bagian tubuh (rambut) orang lain yang kemulyaannya haram dimanfaatkan. Seperti halnya rambut juga tidak boleh disambung dengan memakai sobekan kain, bulu wool. Sedang mengikat rambut memakai benang-benang sutera yang di warnai dan benang lain yang tidak menyerupai rambut hukumnya tidaklah di larang. [ Mughni AlMuhtaaj I/191 ].

Diperinci :
a. Kalau penyambungan itu memakai rambut najis maka hukumnya haram secara mutlak.
b. Apabila memakai rambut yang suci maka diperinci lagi :
1). Apabila memakai rambut manusia, maka hukum penyambungannya haram
2). Apabila memakai rambut buatan, maka hukumnya boleh atas izin suami.
Dasar Pengambilan Hukum
a. Fathul Jawwad Halaman 27
كوصل المرأة شعرها بشعر نجس حاصل مسئلة وصل الشعر كما قال شيخ مشايخنا الشيخ عطية الاجهوري انه ان كان بنجس حرم مطلقا وإن كان بطاهر فإن كان من أدمي ولو من نفسها حرم مطلقا وإن من غير أدمي فيحرم مطلقا بغير إذن الزوج ويجوز بإذنه.
b. Bujairimi ala al Minhaj

قوله ( كوصل المرأة ) مثلها الرجل سم وحاصله أن وصل المرأة شعرها بشعر نجس أو شعر آدمي حرام مطلقا سواء كان طاهرا أم نجسا من شعرها أو شعر غيرها بإذن الزوج أو السيد أم لا وأما وصلها بشعر طاهر من غير آدمي فإن أذن فيه الزوج أو السيد جاز وإلا فلا كما يؤخذ جميعه من م ر والشوبري وقوله من شعرها لأنه بانفصاله منها صار محترما تجب 
مواراته ع ش على م ر
MEMBUAT dan MENJUAL WIG :
jika dari bulu hewan yg najis = haram
jika berasal dari rambut manusia = haram
jika dari bulu hewan yg suci = halal

Hukum Mengadakan Acara Ulang Tahun


PERTANYAAN :
Merayakan ulang tahun itu gimana menurut pandangan Islam ? Dan menyambut ulang tahun yaag baik menurut Islam itu gimana ?
JAWABAN :
Wa'alaikumussalam wr wb. Memang tidak ada kejelasan dalil yang pasti dalam ajaran islam mengenai perayaan acara ulang tahun baik yang mengaharamkan atau memperbolehkan namun dikalangan para sahabat Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam sudah biasa terjadi saling memberi ucapan selamat antara satu dengan yang lainnya terlebih bila salah satu dari mereka menerima kenikmatan. Berarti menurut sebatas pemahaman kami (sementara ini) hukum acara tersebut MUBAH (bahkan sebagian ulama ada yang mengatakan sunah) sepanjang di dalamnya tidak ada hal-hal yang munkar, terlebih bila memang acara tersebut dilakukan sebagai manifestasi rasa syukur atas kurniaNya dalam di berikannya usia atau kenikmatan yang lainnya.
تتمة قال القمولي لم أر لأحد من أصحابنا كلاما في التهنئة بالعيد والأعوام والأشهر كما يفعله الناس لكن نقل الحافظ المنذري عن الحافظ المقدسي أنه أجاب عن ذلك بأن الناس لم يزالوا مختلفين فيه والذي أراه أنه مباح لا سنة فيه ولا بدعة
وأجاب الشهاب ابن حجر بعد اطلاعه على ذلك بأنها مشروعة واحتج له بأن البيهقي عقد لذلك بابا فقال باب ما روي في قول الناس بعضهم لبعض في العيد تقبل الله منا ومنك
وساق ما ذكر من أخبار وآثار ضعيفة لكن مجموعها يحتج به في مثل ذلك ثم قال ويحتج لعموم التهنئة بما يحدث من نعمة أو يندفع من نقمة بمشروعية سجود الشكر والتعزية وبما في الصحيحين عن كعب بن مالك في قصة توبته لما تخلف عن غزوة تبوك أنه لما بشر بقبول توبته ومضى إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقام إليه طلحة بن عبيد الله فهنأه
Keterangan diambil dari : Iqna Li assyarbiiny I/188, Asna Almathoolib I/283, Nihaayah alMuhtaaj II/401, dan Mughni Almuhtaaj I/316.

Wallaahu A'lamu bis Showaab