Tampilkan postingan dengan label TASHAWUF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TASHAWUF. Tampilkan semua postingan

SYARI'AH, THARIQAH, HAQIQAH DAN MA'RIFAH


Kata syari'ah telah beredar luas di kalangan umat muslim. Bahkan, dalam al-Qur'an sendiri, kata tersebut telah dipakai antara lain pada Surah al-Jatsiyah: 18. Pemakaian kata tersebut mengacu kepada makna ajaran dan norma agama itu sendiri. Dalam perkembangan Islam munculnya tiga kata thariqah, haqiqah dan ma'rifah, telah mengakibatkan terbatasnya pengertian syari'ah sehingga lebih banyak mengacu pada norma hukum. Sedangkan tiga kata lainnya menjadi terma yang terkenal dalam tasawuf. Karena itu ada baiknya kita lebih dahulu berbicara tentang tasawuf itu sendiri.
Mengenai kelompok tasawuf ada dua pendapat. Pertama, mereka adalah kelompok spiritual dalam umat Islam yang berada di tengah-tengah dua kelompok lainnya yang disebut kelompok formal dan kelompok Intelektual. Kelompok intelektual ini terdiri dari ulama-ulama mutakallim (ahli teologi), sedangkan kelompok formal terdiri dari ulama-ulama muhaddits dan fuqaha. Kedua, bahwa tasawuf itu hanyalah suatu kecenderungan spiritual yang membentuk etika moral dan lingkungan sosial khusus. Sehingga seharusnya kita katakan seorang muhaddttsin sekaligus juga ulama sufiyah, begitu pula seorang mutakallimin sekaligus juga ulama sufiyah.
Ajaran Tasawuf pada dasarnya merupakan bagian dari prinsip-prinsip Islam sejak awal. Ajaran ini tak ubahnya merupakan upaya mendidik diri dan keluarga untuk hidup bersih dan sederhana, serta patuh melaksanakan ajaran-ajaran agama dalam kehidupannya sehari-hari. Ibnu Khaldun mengungkapkan, pola dasar tasawuf adalah kedisiplinan beribadah, konsentrasi tujuan hidup menuju Allah (untuk mendapatkan ridla-Nya), dan upaya membebaskan diri dari keterikatan mutlak pada kehidupan duniawi, sehingga tidak diperbudak harta atau tahta, atau kesenangan duniawi lainnya. Kecenderungan seperti ini secara umum terjadi pada kalangan kaum muslim angkatan pertama. Pada angkatan berikutnya (abad 2 H) dan seterusnya, secara berangsur-angsur terjadi pergeseran nilai sehingga orientasi kehidupan duniawi menjadi lebih berat. Ketika itulah angkatan pertama kaum muslim yang mempertahankan pola hidup sederhananya lebih dikenal sebagai kaum sufiyah.
Keadaan tersebut berkelanjutan hingga mencapai puncak perkembangannya pada akhir abad 4 H. Dalam masa tiga abad itu dunia Islam mencapai kemakmuran yang melimpah, sehingga di kalangan atas dan menengah terdapat pola kehidupan mewah, seperti kita dapat simak dalam karya sastra "cerita seribu satu malam" dimasa kejayaan kekhalifahan Abbasiyah. Pada masa itu gerakan tasawuf juga mengalami perkembangan yang tidak terbatas hanya pada praktek hidup bersahaja saja, tapi mulai ditandai juga dengan berkembangnya suatu cara penjelasan teoritis yang kelak menjadi suatu disiplin ilmu yang disebut ilmu Tasawuf.
Pada tingkat perkembangan inilah muncul beberapa terma yang dulunya tidak lazim dipakai dalam ilmu-ilmu keislaman. Upaya penalaran para ulama muhaddits dan fuqaha dalam menjabarkan prinsip-prinsip ajaran Islam mengenai penataan kehidupan pribadi dan masyarakat yang sudah berkembang selama tiga abad -dengan munculnya disiplin ilmu Tasawuf- terjadilah pemisahan antara dua pola penalaran, yaitu produk penalaran ulama muhaddits dan fuqaha yang disebut syari'ah, dan produk penalaran ulama tasawuf yang disebut haqiqah. Selanjutnya para fuqaha pun disebut ahli syari'ah dan para ulama tasawuf disebut ahli haqiqah.
Pada tahap perkembangannya, secara berangsur-angsur pola pikir dan pola hubungan antara ahli syari'ah dan ahli haqiqah makin berbeda. Dan ini menimbulkan banyak pertentangan antara kedua kelompok tersebut. Perbedaan tersebut ditandai dengan beberapa hal berikut:
1. Ahli syari'ah menonjolkan -kadang-kadang secara berlebih-lebihan- soal pengalaman agama dalam bentuk yang formalistik (syi'ar-syi'ar lahiriah). Sedang dilain pihak, para ahli haqiqah menonjolkan aspek-aspek batiniah ajaran Islam.
2. Adanya teori-teori ahli haqiqah yang menggusarkan para ahli syari'ah, misalnya teori al-fana fi 'l-Lah (peleburan diri dalam Allah) yang dikemukakan Abu Yazid al-Busthami dan teori Hub al-Lah (cinta Allah) hasil pemikiran Rabi'ah al-'Adawiyah serta teori Maqamat-Ahwal (terminal-terminal dan situasi-situasi) ciptaan Dzunn-un al-Mishri. Semua itu dianggap sebagai ajaran aneh oleh para ahli syari'ah.
3. Sebagian ahli haqigah tidak merasa terikat dengan syi'ar-syi'ar agama yang ritual-formalistis. Mereka berkata, kalau seseorang sudah mencapai derajat wali, dia sudah bebas dari ikatan-ikatan formal. Padahal, para pendahulu mereka sangat disiplin dalam pengalaman syari'ah.
4. Ahli haqiqah mengklaim, siapa yang telah sampai perjalanan rohaniahnya kepada Allah dan sudah terlebur dirinya dalam diri Allah, maka dia akan mampu menaklukkan alam dan melakukan hal-hal yang luar biasa (keramat).
Jurang pemisah yang makin hari makin melebar antara ahli syari'ah dan ahli haqiqah makin menjadi-jadi pada sekitar akhir abad kelima Hijrah, dan Imam Ghazali berupaya memulihkannya. Dalam kaitan inilah beliau tampil dengan karya besarnya Ihya 'Ulum al-Din. Dalam buku ini beliau mempertemukan teori-teori syari'ah dengan teori-teori haqiqah Ternyata upaya al-Ghazali ini sangat membantu dalam merukunkan kembali antara para ahli syari'ah dengan ahli haqiqah.
Di Indonesia kita lebih banyak mengenal ajaran tasawuf lewat lembaga keagamaan non-formal yang namanya "tarekat" asal kata thariqah. Di Jawa Timur misalnya, kita jumpai Tarekat Qadiriyah yang cukup dikenal, disamping Tarekat Naqsyabandiyah, Syadziliyah, Tijaniyah dan Sanusiyah. Dalam satu dasawarsa terakhir ini, kita melihat adanya langkah lebih maju dalam perkembangan tarekat-tarekat tersebut dengan adanya koordinasi antara berbagai macam tarekat itu lewat ikatan yang dikenal dengan nama Jam'iyah Ahl al-Thariqah al-Mu'tabarah. Pada tahun lima puluhan, pemerintah Mesir menempatkan pembinaan dan koordinasi tarekat-terekat tersebut di bawah Departemen Bimbingan Nasional (Wizarah al-Irsyad al-Qaumi). Pertimbangannya ialah, bagaimanapun keberadaan penganut-penganut tarekat itu merupakan bagian dari potensi bangsa/umat, yang berhak mendapatkan perlindungan dalam rangka tertib kemasyarakatan suatu negara.
Untuk lebih mengenal adanya tarekat itu, ada baiknya kita mempertanyakan kapankah munculnya tarekat (al-thuruq al-shufiyah) itu dalam sejarah perkembangan gerakan tasawuf Dr. Kamil Musthafa al-Syibi dalam tesisnya tentang gerakan tasawuf dan gerakan syi'ah mengungkapkan, tokoh pertama yang memperkenalkan sistem thariqah (tarekat) itu Syekh Abdul Qadir al-Jilani (w. 561 H/1166 M) di Baghdad. Ajaran tarekatnya menyebar ke seluruh penjuru dunia Islam, yang mendapat sambutan luas di Aljazair, Ghinia dan Jawa. Sedangkan di Mesir, tarekat yang banyak pengikutnya Tarekat Rifa'iyyah yang dibangun Sayid Ahmad al-Rifa'i. Dan tempat ketiga diduduki tarekat ulama penyair kenamaan Parsi, Jalal al-Din al-Rumi (w. 672 H/1273 M). Beliau membuat tradisi baru dengan menggunakan alat-alat musik sebagai sarana dzikir. Kemudian sistem ini berkembang terus dan meluas. Dalam periode berikutnya muncul tarekat al-Syadziliyah yang mendapat sambutan luas di Maroko dan Tunisia khususnya, dan dunia Islam bagian Timur pada umumnya.
Yang juga perlu dicatat di sini ialah munculnya Tarekat Sanusiyah yang mempunyai disiplin tinggi mirip disiplin militer. Di bawah syeikhnya yang terakhir, Sayyid Ahmad al-Syarif al-Sanusi berhasil menggalang satu kekuatan perlawanan rakyat yang mampu memerangi kolonialis Italia, Perancis dan Inggris secara berturut-turut, dan akhirnya membebaskan wilayah Libya. Mungkin sifat keras dari iklim yang dibentuk Tarekat Sanusiyah inilah yang mewarnai Mu'ammar al-Qadafi mengambil alih kekuasaan dan berkuasa sampai saat ini sebagai Kepala Negara tersebut.
Nicholson mengungkapkan hasil penelitiannya, bahwa system hidup bersih dan bersahaja (zuhd) adalah dasar semua tarekat yang berbeda-beda itu. Semua pengikutnya dididik dalam disiplin itu, dan pada umumnya tarekat-tarekat tersebut walaupun beragam namanya dan metodenya, tapi ada beberapa ciri yang menyamakan:
1. Ada upacara khusus ketika seseorang diterima menjadi penganut (murid). Adakalanya sebelum yang bersangkutan diterima menjadi penganut, dia harus terlebih dahulu menjalani masa persiapan yang berat.
2. Memakai pakaian khusus (sedikitnya ada tanda pengenal)
3. Menjalani riyadlah (latihan dasar) berkhalwat. Menyepi dan berkonsentrasi dengan shalat dan puasa selama beberapa hari (kadang-kadang sampai 40 hari).
4. Menekuni pembacaan dzikir tertentu (awrad) dalam waktu-waktu tertentu setiap hari, ada kalanya dengan alat-alat bantu seperti musik dan gerak badan yang dapat membina konsentrasi ingatan.
5. Mempercayai adanya kekuatan gaib/tenaga dalam pada mereka yang sudah terlatih, sehingga dapat berbuat hal-hal yang berlaku di luar kebiasaan.
6. Penghormatan dan penyerahan total kepada Syeikh atau pembantunya yang tidak bisa dibantah
Dari sistem dan metode tersebut Nicholson menyimpulkan, bahwa tarekat-tarekat sufi merupakan bentuk kelembagaan yang terorganisasi untuk membina suatu pendidikan moral dan solidaritas sosial. Sasaran akhir dari pembinaan pribadi dalam pola hidup bertasawuf adalah hidup bersih, bersahaja, tekun beribadah kepada Allah, membimbing masyarakat ke arah yang diridlai Allah, dengan jalan pengamalan syari'ah dan penghayatan haqiqah dalam sistem/metode thariqah untuk mencapai ma'rifah.
Apa yang dimaksud dengan kata ma'rifah dalam terma mereka ialah penghayatan puncak pengenalan keesaan Allah dalam wujud semesta dan wujud dirinya sendiri. Pada titik pengenalan ini akan terpadu makna tawakkal dalam tawhid, yang melahirkan sikap pasrah total kepada Allah, dan melepaskan dirinya dari ketergantungan mutlak kepada sesuatu selain Allah.
Daftar Kepustakaan
Abu 'l-Hasan al-Nadawi, Rijal al-fikri wa 'l-Da'wah fi 'l-lslam.
Ahmad Amin, Dhuha al-Islam dan Zhuhur al-Islam
Imam al Ghazali, Ihya 'Ulum al-Din
Irnam Ibn Khaldun, al-Muqaddimah.

Kamil Mushthafa al-Syibli, al-Shilah bain al-Tashawwuf wa 'l-Tasyayyu'.

PEMBAGIAN NAFSU MENURUT SIFATNYA

Nafsu itu ada 7 berdasarkan sifat-sifatnya :
1. NAFSU AMAROH
Diambil dari Ayat Qur'an :
ﺇﻥ ﺍﻟﻨﻔﺲ ﻷﻣﺎﺭﺓ ﺑﺎﻟﺴﻮﺀ
"sungguh nafsu/jiwa itu memerintahkan pada keburukan". Nafsu ini memerintahkan seseorang pada keburukan, dan apabila memerintah pd kebaikan maka hasil akhirnya juga buruk
2. NAFSU LAWAMAH
Berdsarkan ayat Qur'an :
ﻭﻻ ﺃﻗﺴﻢ ﺑﺎﻟﻨﻔﺲ ﺍﻟﻠﻮﺍﻣﺔ
"dan Aku bersumpah dgn Jiwa-jiwa yang amat menyesali dirinya sendiri". Ketika seseorang memerangi nafsu ini & ditekan terus supaya nafsu ini ikut pada suatu yg benar menurut sari'at, maka seorang pun takkan mampu mengalahkan nafsu ini. Kemudian nafsu ini akan kmbali ke pemiliknya dengan dicela..
3. NAFSU MULHAMAH
Berdasarkan ayat Qur'an :
ﻓﺎﻟﻬﻤﻬﺎ ﻓﺠﻮﺭﻫﺎ ﻭﺗﻘﻮ ﻳﻬﺎ
"maka Alloh swt mengilhamkan kpd jiwa itu jlan kefasikan & ketaqwa'annya". Ketika seorang memerangi nafsuini dgn susah payahnya & nafsu ini cenderung kpd Ridhonya ALLOH swt ,walaupun awalnya nafsu ini merintah kepada kefasikan , berkah IlhamNYA ALLOH nafsu ini menjadi Ketaqwa'an.
TANDA2 NAFSU MULHAMAH : seseorang harus mengetahui perkra yg masih samar yaitu sifat PAMER,BANGGA DIRI dll (PENYAKIT HATI).
4. NAFSU MUT'MAINAH
5. NAFSU RODIYAH
6. NAFSU MARDIYAH.
Berdasarkan ayat Qur'an:
ﻳﺂﻳﺘﻬﺎﺍﻟﻨﻔﺲ ﺍﻟﻤﻄﻤﺌﻨﺔ ,ﺍﺭﺟﻌﻰ ﺍﻟﻰ ﺭﺑﻚ ﺭﺍﺿﻴﺔ ﻣﺮﺿﻴﺔ , ﻓﺎﺩﺧﻠﻰ ﻓﻰ ﻋﺒﺎﺩﻯ  ﻭﺍﺩﺧﻠﻰ ﺟﻨﺘﻰ
"Hai jiwa yg tenang, kembalilah kpd Tuhanmu dgn hati yg ridho & diridhoi _NYA,maka masuklah kedlm hamba2KU,& masuklah kedlm SurgaKU".
Maka ketika masih tetap memerangi nafsu tdi sehingga hilang Hawa (keinginan) melakukan nafsu & sifat2 yg buruk diganti dgn sifat yg terpuji yaitu dgn ahlak yg datangnya dari ALLOH SWT,. sperti sangat berbelas kasih,dermawan dll,inilah yg dinamakan Mutmainah. Nafsu mutmainah ini akan slalu kembali kpd Alloh swt & inilah awal dari wusul/makrifat kpd ALLOH SWT, akan tetapi nafsu ini belum sunyi dari suatu yg masih samar, sperti Sirik khofi, cinta Kdudukan/pangkat, akan tetapi pula nafsu ini tdkkan bisa ditmukan pd orang2 yg diberi Cahaya (HIDAYAH) oleh Alloh SWT didlm hatinya, karena yg kelihatan Nafsu ini adlah sifatnya baik,sprti Sifat dermawan,tawakal, ZUHUD (tdk cinta dunia), WIRA'I (Sifat yg menghindari dari barang haram, makruh,subhat), BERsyukur,SABAR, Menerima apa-apa yg diTAKDIRKAN oleh ALLOH SWT ,dan dibukanya sebagian Rahasia-rahasia Ilmunya Alloh SWT, & bisa menjdi WaliyaLLOH.
5. NAFSU RODIYAH
Ketika seorang dipuji /dicaci kdudukannya Sama tak pernah merasa,karna smua itu adalah akan hilang,&menerima dan Ridho/IHLAS stiap apa adanya yg telah diberikan oleh ALLOH didunia, dan pabila ditemukan dlm diri ini sifat Berbangga diri maka sgeralah minta pertolongan dari ALLOH swt dgn Melanggengkan dikir, & taqorub kpd Alloh swt
6. NAFSU MARDIYAH
Apabila udah sampai kemaqom IHLAS (Smuanya karna ALLOH swt) dan mulai terbukalah pintu2 makrifat & jelasnya ALLOH Swt,maka nafsu ini tenggelam didlm Samudra tauhid.nafsu ini tdk akan diperoleh kcuali dari pertolongan&penjaga'annya ALLOH swt, yg dituju hanyalah makrifat, wushul, mukasafah kpd Alloh swt, sehingga ALLOH memanggil orang ini dgn
ﻳﺂﻳﺘﻬﺎﺍﻟﻨﻔﺲ ﺍﻟﻤﻄﻤﺌﻨﺔ ,ﺍﺭﺟﻌﻯ ﺎﻟﻰ ﺭﺑﻚ ﺭﺍﺿﻴﺔ ﻣﺮﺿﻴﺔ ﻓﺎﺩﺧﻠﻰ , ﻓﻰ ﻋﺒﺎﺩﻯ  ﻭﺍﺩﺧﻠﻯ ﺠﻨﺘﻰ
dan ini adalah sudah slesai memerangi nafsu dan tipu dayanya,dan stelah mencapai derajat ini jgn lupa slalu menjaga & waspada.. SAYID ABU BAKRI berkata : " nafsu itu adalah hidup walapun derajatnya sampai tujuh."
7. NAFSU KAMILAH
Setelah nafsu nomr 4, 5, 6 ini menjadi watak maka inilah yg dinamakan Nafsu kamilah..yaitu derajat nafsu yg tertinggi &yg paling sempurna,.dan sampailah ke Mukasafah makrifat/mengetahui ALLOH dgn ilmu yaqin... ALLOHUMMAJALNA MIN IBADIKAL MUHLASIN,
[ Diambil dari kitab siroju tolibin sarah minhaju tolibin hal 49 - 50 ]

MAKSUD NAFSUL MUTHMAINNAH "JIWA YANG TENANG "


PERTANYAAN :
Jiwa yang tenang.. yang bagaimana ya ? 
JAWABAN :
ARTI Jiwa YANG TENANG menurut beberapa pendapat SAHABAT Nabi dan Ulama :
{يا أيتها النفس المطمئنة} قال الحسن ، أي : المؤمنة الموقنة. وقال مجاهد : الراضية بقضاء الله تعالى. وقال ابن عباس رضي الله تعالى عنهما بثواب الله تعالى. وقال ابن كيسان : ...المخلصة. وقال ابن زيد : التي بشرت بالجنة عند الموت وعند البعث ويوم الجمع
(Hai jiwa yang tenang) arti menurut beberapa pandangan : Hasan Basri : Yang mukmin dan yang punya keyakinan. Mujaahid : Yang ridho dengan ketentuan Allah Ta’aalaa. Ibnu Abbas ra : Tenang dengan pahala Allah. Ibnu Kiisaan : Yang Ikhlas. Ibnu Zaid : Yang dibahagiakan dengan surga saat meninggal, dibangkitkan dan dikumpulkan. [ Tafsiir Sirooj alMuniir IV/391 ].
{ يا أيتها النفس المطمئنة } على إرادة القول وهي التي اطمأنت بذكر الله فإن النفس تترقى في سلسلة الأسباب والمسببات إلى الواجب لذاته فتستفز دون معرفته وتستغني به عن غيره أو إلى الحق بحيث لا يريبها شك أو الأمنة التي لا يستفزها خوف ولا حزن وقد قرئ بهما سورة البلد
(Hai jiwa yang tenang) Yakni yang merasa tenang dengan senantiasa dzikir pada Allah (mengingat Allah) yang dapat menghantarkannya naik derajat makrifat kepadaNya dan tidak membutuhkan selainNya atau menghantarkan pada kebenaran yang tiada sedikitpun keraguan didalamnya atau pada ketenangan yang tidak terusik oleh ketakutan dan kesedihan. [ Tafsiir Baidhoowy I/490 ].
واسم هذه النفس الساكنة النفس المطمئنة التى ترجع إلى ربها راضية مرضية وهؤلاء هم الذين إليهم الإشارة بقوله صلى الله عليه و سلم سبق المفردون المستهترون بذكر الله تعالى وضع الذكر عنهم اوزارهم فوردوا القيامة خفافا // حديث سبق المفردون المستهترون بذكر الله الحديث أخرجه الترمذى من حديث أبى هريرة وحسنة وقد تقدم
Sebutan nafsu yang tenang ini adalah Nafsu Muthmainnah yang saat dikembalikan pada Tuhannya dalam keadaan ridho dan diridhoi. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa dzikir pada Allah seperti yang dituturkan oleh Nabi shallallaahu alaihi wa sallam “Mendahului orang-orang yang tersendiri yang selalu mengikat nafsunya dengan dzikir pada Allah, dzikir mereka jadikan sebagai pakaian, maka saat mendatangi hari Qiyamat mereka dalam keadaan ringan-ringan” (HR Turmudzi). [ Ihyaa ‘Uluumiddiin IV/43 ].
وهذا يقال لها عند الاحتضار، وفي يوم القيامة أيضا، كما أن الملائكة يبشرون المؤمن عند احتضاره وعند قيامه من قبره، وكذلك هاهنا.
"Perkataan ini disampaikan saat jiwa yang tenang tersebut kembali pada Tuhannya dan saat di hari Qiyamat, seperti halnya para malaikat yang memberikan kebahagiaan pada para mukmin saat ia menghadap Tuhannya dan dibangkitkan dari kuburnya". [ Tafsiir Ibnu Katsiir VIII/400 ].

Menurut keterangan di kitab Siroj Atthoolibiin Kyai Ihsan Jampes Nafsu malah terbagi menjadi 7, memasukkan Rodhiyah, Mardhiyyah dan Kaamilah....

SEKELUMIT TENTANG HIRARKI KEWALIAN


Syaikh Abu Hasan Ali Hujwiri dalam kitabnya yang berjudul Kasyf Al-Mahjub, mengatakan bahwa wali Akhyar sebanyak 300orang, wali Abdal sebanyak 40 orang, wali Abrar sebanyak 7 orang, wali Autad sebanyak 4 orang, wali Nuqaba sebanyak 3 orang dan wali Quthub atau Ghauts sebanyak 1 orang. Sedangkan menurut Syaikhul Akbar Muhyiddin ibnu Al Arabi dalam kitabnya al-Futuhat al-Makkiyyah membuat pembagian tingkatan wali dan kedudukannya. Jumlah mereka sangat banyak, ada yang terbatas dan yang tidak terbatas. Sedikitnya terdapat 9 tingkatan, secara garis besar dapat diringkas sebagai berikut :
1. Wali Quthub al-Aqthab atau Wali Quthub al-Ghauts
Wali yang sangat paripurna. Ia memimpin dan menguasai wali diseluruh alam semesta. Jumlahnya hanya seorang setiap masa. Jika wali ini wafat, maka Wali Quthub lainnya yang menggantikan.
2. Wali Aimmah
Pembantu Wali Quthub. Posisi mereka menggantikan Wali Quthub jika wafat. Jumlahnya dua orang dalam setiap masa. Seorang bergelar Abdur Robbi, bertugas menyaksikan alam malakut. Dan lainnya bergelar Abdul Malik, bertugas menyaksikan alam malaikat.
3. Wali Autad
Jumlahnya empat orang. Berada di empat wilayah penjuru mata angin, yang masing-masing menguasai wilayahnya. Pusat wilayah berada di Ka`bah. Kadang dalam Wali Autad terdapat juga wanita. Mereka bergelar Abdul Hayyi, Abdul Alim, Abdul Qadir dan Abdul Murid.
4. Wali Abdal
Abdal berarti pengganti. Dinamakan demikian karena jika meninggal di suatu tempat, mereka menunjuk penggantinya. Jumlah Wali Abdal sebanyak tujuh orang, yang menguasai ketujuh iklim. Pengarang kitab al-Futuhatul Makkiyyah dan Fushus Hikam yang terkenal itu (Muhyiddin ibnu 'Arabi) mengaku pernah melihat dan bergaul baik dengan ke tujuh Wali Abdal di Makkatul Mukarramah.
Pada tahun 586 di Spanyol, Muhyiddin ibnu 'Arabi bertemu Wali Abdal bernama Musa al-Baidarani. Sahabat Muhyiddin ibnu 'Arabi yang bernama Abdul Majid bin Salamah mengaku pernah juga bertemu Wali Abdal bernama Mua'az bin al-Asyrash. Beliau kemudian menanyakan bagaimana cara mencapai kedudukan Wali Abdal. Ia menjawab dengan lapar, tidak tidur dimalam hari, banyak diam dan mengasingkan diri dari keramaian.
5. Wali Nuqobaa
Jumlah mereka sebanyak 12 orang dalam setiap masa. Allah memahamkan mereka tentang hukum syariat. Dengan demikian mereka akan segera menyadari terhadap semua tipuan hawa nafsu dan iblis. Jika Wali Nuqobaa melihat bekas telapak kaki seseorang diatas tanah, mereka mengetahui apakah jejak orang alim atau bodoh, orang baik atau tidak.
6. Wali Nujabaa
Jumlahnya mereka sebanyak 8 orang dalam setiap masa.
7. Wali Hawariyyun
Berasal dari kata hawari, yang berarti pembela. Ia adalah orang yang membela agama Allah, baik dengan argumen maupun senjata. Pada zaman nabi Muhammad sebagai Hawari adalah Zubair ibnu Awam. Allah menganugerahkan kepada Wali Hawariyyun ilmu pengetahuan, keberanian dan ketekunan dalam beribadah.
8. Wali Rajabiyyun
Dinamakan demikian, karena karomahnya muncul selalu dalam bulan Rajab. Jumlah mereka sebanyak 40 orang. Terdapat di berbagai negara dan antara mereka saling mengenal. Wali Rajabiyyun dapat mengetahui batin seseorang. Wali ini setiap awal bulan Rajab, badannya terasa berat bagaikan terhimpit langit. Mereka berbaring diatas ranjang dengan tubuh kaku tak bergerak. Bahkan, akan terlihat kedua pelupuk matanya tidak berkedip hingga sore hari. Keesokan harinya perasaan seperti itu baru berkurang. Pada hari ketiga, mereka menyaksikan peristiwa ghaib.
Berbagai rahasia kebesaran Allah tersingkap, padahal mereka masih tetap berbaring diatas ranjang. Keadaan Wali Rajabiyyun tetap demikian, sesudah 3 hari baru bisa berbicara.
Apabila bulan Rajab berakhir, bagaikan terlepas dari ikatan lalu bangun. Ia akan kembali ke posisinya semula. Jika mereka seorang pedagang, maka akan kembali ke pekerjaannya sehari-hari sebagai pedagang.
9. Wali Khatam
Khatam berarti penutup. Jumlahnya hanya seorang dalam setiap masa. Wali Khatam bertugas menguasai dan mengurus wilayah kekuasaan ummat nabi Muhammd saw.
Jumlah para Auliya yang berada dalam manzilah-manzilah ada 356 sosok, yang mereka itu ada dalam kalbu Adam, Nuh, Ibrahim, Jibril, Mikail, dan Israfil. Dan ada 300, 40, 7, 5, 3 dan 1. Sehingga jumlah kerseluruhan 356 tokoh. Hal ini menurut kalangan Sufi karena adanya hadits yang menyebut demikian.
Sedangkan menurut Syaikh al-Akbar Muhyiddin ibnu 'Arabi (menurut beliau muncul dari mukasyafah) maka jumlah keseluruhan Auliya yang telah disebut diatas, sampai berjumlah 589 orang. Diantara mereka ada satu orang yang tidak mesti muncul setiap zaman, yang disebut sebagai al-Khatamul Muhammadi, sedangkan yang lain senantiasa ada di setiap zaman tidak berkurang dan tidak bertambah. Al-Khatamul Muhammadi pada zaman ini (zaman Muhyiddin ibnu 'Arabi), kami telah melihatnya dan mengenalnya (semoga Allah menyempurnakan kebahagiaannya), saya tahu ia ada di Fes (Marokko) tahun 595 H. Sementara yang disepakati kalangan Sufi, ada 6 lapisan para Auliyaââ,¬(tm), yaitu para Wali: Ummahat, Aqthab, A'immah, Autad, Abdal, Nuqaba dan Nujaba.
Pada pertanyaan lain : Siapa yang berhak menyandang Khatamul Auliya sebagaimana gelar Khatamun Nubuwwah yang disandang oleh Nabi Muhammad saw?.
Ibnu Araby menjawab : "al-Khatam itu ada dua: Allah menutup Kewalian (mutlak), dan Allah menutup Kewalian Muhammadiyah. Penutup Kewalian mutlak adalah Nabi Isa Alaihissalaam. Dia adalah Wali dengan Nubuwwah Mutlak, yang kelak turun di era ummat ini, dimana turunnya di akhir zaman, sebagai pewaris dan penutup, dimana tidak ada Wali dengan Nubuwwah Mutlak setelah itu. Ia disela oleh Nubuwwah Syari'at dan Nubuwwah Risalah. Sebagaimana Nabi Muhammad saw sebagai Penutup Kenabian, dimana tidak ada lagi Kenabian Syariat setelah itu, walau pun setelah itu masih turun seperti Nabi Isa, sebagai salah satu dari Ulul 'Azmi dari para Rasul dan Nabi mulia. Maka turunnya Nabi Isa sebagai Wali dengan Nubuwwah mutlaknya, tetapi aturannya mengikuti aturan Nabi Muhammad saw, bergabung dengan para Wali dari ummat Nabi Muhammad lainnya. Ia termasuk golongan kita dan pemuka kita.
Pada mulanya, ada Nabi, yaitu Adam as. Dan akhirnya juga ada Nabi, yaitu Nabi Isa, sebagai Nabi Ikhtishah (kekhususan), sehingga Nabi Isa kekal di hari mahsyar ikut terhampar dalam dua hamparan mahsyar. Satu Mahsyar bersama kita, dan satu mahsyar bersama para Rasul dan para Nabi.
Adapun Penutup Kewalian Muhammadiyah, saat ini (zaman Muhyiddin ibnu 'Arabi) ada pada seorang dari bangsa Arab yang memiliki kemuliaan sejati. Saya kenal di tahun 595 H. Saya melihat tanda rahasia yang diperlihatkan oleh Allah Ta'ala pada saya dari kenyataan ubudiyahnya, dan saya lihat itu di kota Fes, sehingga saya melihatnya sebagai Penutup Kewalian Muhammadiyah darinya. Dan Allah telah mengujinya dengan keingkaran berbagai kalangan padanya, mengenai hakikat Allah dalam sirr-nya.
Sebagaimana Allah menutup Nubuwwah Syariat dengan Nabi Muhammad SAW, begitu juga Allah menutup Kewalian Muhammadi, yang berhasil mewarisi Al-Muhammadiyah, bukan diwarisi dari para Nabi. Sebab para Wali itu ada yang mewarisi Ibrahim, Musa, dan Nabi Isa, maka mereka itu masih kita dapatkan setelah munculnya Khatamul Auliya' Muhammadi, dan setelah itu tidak ada lagi Wali pada Kalbu Muhammad saw. Inilah arti dari Khatamul Wilayah al-Muhammadiyah. Sedangkan Khatamul Wilayah Umum, dimana tidak ada lagi Wali setelah itu, ada pada Nabi Isa Alaissalam. Dan kami menemukan sejumlah kalangan sebagai Wali pada Kalbu Nabi Isa As, dan sejumlah Wali yang berada dalam Kalbu para Rasul lainnyaÂť.
Di lain tempat, Ibnu 'Arabi mengatakan bahwa dirinyalah yang menjadi Segel (Penutup) Kewalian Muhammad.
Beberapa wali yang pernah mencapai derajat wali Quthub al-Aqthab (Quthub al-Ghaus) pada masanya
1.Sayyid Hasan ibnu Ali ibnu Abi Thalib
2.Khalifah Umar ibnu Abdul Aziz
3.Syaikh Yusuf al-Hamadani
4.Syaikh Abdul Qadir al-Jilani
5.Syaikh Ahmad al-Rifa'i
6.Syaikh Abdus Salam ibnu Masyisy
7.Syaikh Ahmad Badawi
8.Syaikh Abu Hasan asy-Syazili
9.Syaikh Muhyiddin ibnu Arabi
10.Syaikh Muhammad Bahauddin an-Naqsabandi
11.Syaikh Ibrahim Addusuqi
12.Syaikh Jalaluddin Rumi
13.Syaikh Abdul Qadir al-Jilani
Beliau pernah berkata "Kakiku ada diatas kepala seluruh wali. Menurut Abdul Rahman Jami dalam kitabnya yang berjudul Nafahat Al-Uns, bahwa beberapa wali terkemuka diberbagai abad sungguh-sungguh meletakkan kepala mereka dibawah kaki Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.
Syaikh Ahmad al-Rifa'i
Sewaktu beliau pergi Haji, ketika berziarah ke Maqam Nabi Muhammad Saw, maka nampak tangan dari dalam kubur Nabi bersalaman dengan beliau dan beliau pun terus mencium tangan Nabi SAW yang mulia itu. Kejadian itu dapat disaksikan oleh orang ramai yang juga berziarah ke Maqam Nabi Saw tersebut. Salah seorang muridnya berkata :
"Ya Sayyidi! Tuan Guru adalah Quthub". Jawabnya; "Sucikan olehmu syak mu daripada Quthubiyah". Kata murid: "Tuan Guru adalah Ghaus!". Jawabnya: "Sucikan syakmu daripada Ghausiyah".
Al-Imam Sya'roni mengatakan bahwa yang demikian itu adalah dalil bahwa Syaikh Ahmad al-Rifa'i telah melampaui "Maqamat" dan "Athwar" karena Qutub dan Ghauts itu adalah Maqam yang maklum (diketahui umum).
Sebelum wafat beliau telah menceritakan kapan waktunya akan meninggal dan sifat-sifat hal ihwalnya beliau. Beliau akan menjalani sakit yang sangat parah untuk menangung bilahinya para makhluk. Sabdanya, "Aku telah di janji oleh Allah, agar nyawaku tidak melewati semua dagingku (daging harus musnah terlebih dahulu). Ketika Sayyidi Ahmad Al-Rifa'i sakit yang mengakibatkan kewafatannya, beliau berkata, "Sisa umurku akan kugunakan untuk menanggung bilahi agungnya para makhluk. Kemudian beliau menggosok-ngosokkan wajah dan uban rambut beliau dengan debu sambil menangis dan beristighfar. Yang dideritai oleh Sayyidi Ahmad Al-Rifa'i ialah sakit "Muntah Berak". Setiap hari tak terhitung banyaknya kotoran yang keluar dari dalam perutnya. Sakit itu dialaminya selama sebulan. Hingga ada yang tanya, "Kok, bisa sampai begitu banyaknya yang keluar, dari mana ya kanjeng syaikh. Padahal sudah dua puluh hari tuan tidak makan dan minum. Beliau menjawab,"Karena ini semua dagingku telah habis, tinggal otakku, dan pada hari ini nanti juga akan keluar dan besok aku akan menghadap Sang Maha Kuasa. Setelah itu ketika wafatnya, keluarlah benda yang putih kira-kira dua tiga kali terus berhenti dan tidak ada lagi yang keluar dari perutnya. Demikian mulia dan besarnya pengorbanan Aulia Allah ini sehingga sanggup menderita sakit menanggung bala yang sepatutnya tersebar ke atas manusia lain. Wafatlah Wali Allah yang berbudi pekerti yang halus lagi mulia ini pada hari Kamis waktu duhur 12 Jumadil Awal tahun 570 Hijrah. Riwayat yang lain mengatakan tahun 578 Hijrah.
Syaikh Ahmad Badawi
Setiap hari, dari pagi hingga sore, beliau menatap matahari, sehingga kornea matanya merah membara. Apa yang dilihatnya bisa terbakar, khawatir terjadinya hal itu, saat berjalan ia lebih sering menatap langit, bagaikan orang yang sombong. Sejak masa kanak kanak, ia suka berkhalwat dan riyadhoh, pernah empat puluh hari lebih perutnya tak terisi makanan dan minuman. Ia lebih memilih diam dan berbicara dengan bahasa isyarat, bila ingin berkomunikasi dengan seseorang. Ia tak sedetikpun lepas dari kalimat toyyibah, berdzikir dan bersholawat.
Pada usia dini beliau telah hafal Al-Quran, untuk memperdalam ilmu agama ia berguru kepada syaikh Abdul Qadir al-Jailani dan syaikh Ahmad Rifai. Suatu hari, ketika beliau telah sampai ketingkatannya, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, menawarkan kepadanya: ÂťManakah yang kau inginkan ya Ahmad Badawi, kunci Masyriq atau Maghrib, akan kuberikan untukmu, hal yang sama juga diucapkan oleh gurunya Syaikh Ahmad Rifai, dengan lembut, dan karna menjaga tatakrama murid kepada gurunya, ia menjawab; Aku tak mengambil kunci kecuali dari al-Fattah (Allah ).
Peninggalan syaikh Ahmad Badawi yang sangat utama, yaitu bacaan shalawat badawiyah sughro dan shalawat badawiyah kubro.
Syaikh Abu Hasan asy-Syazili
Keramat itu tidak diberikan kepada orang yang mencarinya dan menuruti keinginan nafsunya dan tidak pula diberikan kepada orang yang badannya digunakan untuk mencari keramat. Yang diberi keramat hanya orang yang tidak merasa diri dan amalnya, akan tetapi dia selalu tersibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang disenangi Allah dan merasa mendapat anugerah (fadhal) dari Allah semata, tidak menaruh harapan dari kebiasaan diri dan amalnya.
Di antara keramatnya para Shiddiqin ialah :
1. Selalu taat dan ingat pada Allah swt. secara istiqamah.
2. Zuhud (meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi).
3. Bisa menjalankan perkara yang luar bisa, seperti melipat bumi, berjalan di atas air dan sebagainya.
Di antara keramatnya Wali Qutub ialah :
1. Mampu memberi bantuan berupa rahmat dan pemeliharaan yang khusus dari Allah swt.
2. Mampu menggantikan Wali Qutub yang lain.
3. Mampu membantu malaikat memikul Arsy.
4. Hatinya terbuka dari haqiqat dzatnya Allah swt. dengan disertai sifat-sifat-Nya.
Beliau pernah dimintai penjelasan tentang siapa saja yang menjadi gurunya. Kemudian beliau menjawab, Guruku adalah Syaikh Abdus Salam ibnu Masyisy, akan tetapi sekarang aku sudah menyelami dan minum sepuluh lautan ilmu. Lima dari bumi yaitu dari Rasululah saw, Abu Bakar r.a, Umar bin Khattab r.a, Usman bin Affan r.a dan Ali bin Abi Thalib r.a, dan lima dari langit yaitu dari malaikat Jibril, Mika'il, Isrofil, Izro'il dan ruh yang agung. Beliau pernah berkata, Aku diberi tahu catatan muridku dan muridnya muridku, semua sampai hari kiamat, yang lebarnya sejauh mata memandang, semua itu mereka bebas dari neraka. Jikalau lisanku tak terkendalikan oleh syariat, aku pasti bisa memberi tahu tentang kejadian apa saja yang akan terjadi besok sampai hari kiamat. Syekh Abu Abdillah Asy-Syathibi berkata, Aku setiap malam banyak membaca Radiyallahu'an Asy-Syekh Abul Hasan dan dengan ini aku berwasilah meminta kepada Allah swt apa yang menjadi hajatku, maka terkabulkanlah apa saja permintaanku. Lalu aku bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw. dan aku bertanya, Ya Rasulallah, kalau seusai shalat lalu berwasilah membaca Radiya Allahu , Asy-Syaikh Abu Hasan dan aku meminta apa saja kepada Allah swt, apa yang menjadi kebutuhanku lalu dikabulkan, seperti hal tersebut apakah diperbolehkan atau tidak?. Lalu Nabi saw menjawab, Abu Hasan itu anakku lahir batin, anak itu bagian yang tak terpisahkan dari orang tuanya, maka barang siapa bertawassul kepada Abu Hasan, maka berarti dia sama saja bertawassul kepadaku.

Peninggalan syaikh Abu Hasan asy-Syazili yang sangat utama, yaitu Hizib Nashr dan Hizib Bahar. Orang yang mengamalkan Hizib Bahar dengan istiqomah, akan mendapat perlindungan dari segala bala. Bahkan, bila ada orang yang bermaksud jahat mau menyatroni rumahnya, ia akan melihat lautan air yang sangat luas. Si penyatron akan melakukan gerak renang layaknya orang yang akan menyelamatkan diri dari daya telan samudera. Bila di waktu malam, ia akan terus melakukan gerak renang sampai pagi tiba dan pemilik rumah menegurnya. Hizib Bahar ditulis syaikh Abu Hasan asy-Syazili di Laut Merah (Laut Qulzum). Di laut yang membelah Asia dan Afrika itu syaikh Abu Hasan asy-Syazili pernah berlayar menumpang perahu. Di tengah laut tidak angin bertiup, sehingga perahu tidak bisa berlayar selama beberapa hari. Dan, beberapa saat kemudian Syaikh al-Syadzili melihat Rasulullah. Beliau datang membawa kabar gembira. Lalu, menuntun syaikh Abu Hasan asy-Syazili melafazkan doa-doa. Usai syaikh Abu Hasan asy-Syazili membaca doa, angin bertiup dan kapal kembali berlayar.

STANDAR THORIQOT


Thoriqot secara etimologis adalah jalan. Secara terminologis adalah jalan yang menuju kepada Allah swt, kemudian dijadikan istilah gerakan ibadah yang tertentu dengan aurod-aurod yang tertentu dengan mendapat baiat dari seorang Mursyid tertentu. Dan mempunyai silsilah Mursyid sampai pada Rasulullah, dengan dibangsakan pada seorang Mursyid yang terkenal kapasitasnya.
Berbicara tentang aliran thoriqot pada zaman sekarang bukan soal yang mudah apalagi untuk mengetahui apa thoriqot tersebut mu’tabar atau tidak, demikian pula untuk membedakan antara aliran tersebut merupakan aliran yang mardliyah atau tidak, aliran yang shohihah atau fasad. Karena masing-masing thoriqot atau masing-masing aliran pengikutnya saling mengatakan atas kebenaran aliran yang diikuti, mengklaim atas kemu’tabaran thoriqoh yang diikuti. Lebih-lebih rata-rata thoriqoh dan aliran yang ada selalu bersifat di thoreh dengan tidak transparan kecuali hanya pada pengikutnya bahkan pengikutnya sendiri tidak tahu apa yang semestinya terprogram pada gerakan-gerakan yang ia anut. Banyak yang tidak tahu juga misi-misi tokoh dan pimpinan yang mereka anut. Mereka percaya karena tokoh yang telah diikutinya tanpa mau memfilter dengan ilmu pengetahuan yang telah diajarkan oleh syari’at. Memang sangatlah naif orang yang kurang ilmu pengetahuan agamanya. Mereka hanya menjadi objek orang-orang yang punya kepentingan, sementara mereka hanya menganggap apa yang dilakukannya adalah baik semua tanpa dapat membedakan apakah yang dilakukan tersebut legal atau ilegal. Hal ini memang sesuai dengan Firman Allah swt.
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)
“Demi waktu asar, bahawa sesungguhnya semua manusia adalah rugi kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, berwasiat dengan kebenaran dan kesabaran”.(Al-Ashr:1-3).
Kalau di zaman Rosullulloh saw. yang lebih dari 14 abad lamanya Allah telah menyebutkan dengan waktu ashar kiranya tidaklah berlebihan kalau sekarang waktu sudah ghurub ( waktu terbenamnya matahari ). Kebiasaan pada waktu tersebut keadaan cuaca telah berubah menjadi remang-remang melihat sesuatu serba tidak jelas. Istilah orang kuno banyak tuntunan menjadi tontonan, tontonan menjadi tuntunan, musikan gitar seruling dianggap budaya islam. Budaya yang islam dianggap ketinggalan zaman, aliran yang legal dianggap ilegal, yang ilegal dianggap legal Thoriqot yang sesat pengikutnyya tidak pernah menganggap sesat tapi aliran yang shohih justru dianggap sesat. Aliran yang sesat dianggap keren, aliran yang benar dianggap kemunduran, berbicara benar dianggap salah, yang jelas-jelas salah justru dianggap pembaharuan. Memang hal ini sudah menjadi sunnatulloh dalam kehidupan manusia.

STANDAR FASID DAN SHOHIHNYA SEBUAH ALIRAN
FILTER PERTAMA : MUWAFIQ (COCOK ) DENGAN SYARIAT
Fasid dan tidaknya aliran tidak diukur dari sosok tokoh yang dianutnya, juga bukan dari banyaknya pengikut, juga bukan pembawa aliran tersebut termasuk seorang kyai atau putra kyai, bahkan golongan haba’ib. Yang perlu kita sadari bahwa siapapun orangnya yang kita ikuti jika terjadi kefasidan dalam aliran yang dibawanya mereka tidak akan bertanggung jawab apalagi sampai menjamin kita untuk selamat dari siksaan api neraka atau dapat masuk sorga. Tetapi masing-masing pengikut dan yang diikuti akan bertanggung jawab sendiri di hadapn Allah yang Maha Benar dan Maha Kuasa sebagaimana Firman Allah dalam Al-Baqarah: 166-167.
إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ (166) وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا كَذَلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ (167)
166. (yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.
167. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami." Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.
Maka dari itu jika akan mengikuti pada suatu aliran jangan sekali-kali kita terpengaruh dengan figur yang terlihat atau maziah tokoh yang kita ikuti (khoriq al addah) karomah atau lainnya. Tapi lihatlah aliran tersebut cocok dengan syari’at yang dibawa Nabi atau tidak ? Cocok dengan ajaran Al-Qur’an atau tidak ? Cocok dengan gerakan Sahabat Nabi apa tidak ? Cocok dengan ijma’nya para Sahabat apa tidak ? sebagaimana ucapan Imam Ghozali yang dinukil dari Syech Zakaria Al-Ansori dalam kitab Lubbul Usul Hal. 164;
Juga senada dengan sabda Rosul; "Barang siapa mengada-ada di dalam urusan agama kami ini, sesuatu yang tidak dari agama kami, maka sesuatu itu tertolak"
Jelas dari keterangan di atas menunjukkan bahwa aliran atau gerakan model apapun yang tidak cocok dengan syari’at tidak dapat dianggap benar, apalagi aliran-aliran yang dasar pengambilannya melewati mimpi atau bahkan berdasar ilham dan mengaku diajari Nabi Khidzir kecuali cocok dengan sari’at.
Imam Ghozali menegaskan apapun bentuknya ilham atau ilmu mukasyafah tidak dapat dijadikan pedoman dalam melangkah apalagi membenarkan sebuah aliran. Hal ini bukannya ilham atau ilmu kasyf tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, melainkan ilham atau kasyf yang benar adalah tidah pernah bertentangan dengan dalil syar’i (ajaran al-Qur’an atau al-Hadits) maka dicukupkan dengan dalil syara’ yang sorih dan baku, yakni ajaran Al-Qur’an dan ajaran Hadits, jika adanya hal yang dianggap ilham atau kasyf yang bertentangan dengan Al-qur’an atau Al-Hadits sebenarnya bukan ilham yang salah tapi orang yang menganggap bahwa itu ilham atau kasyf itulah yang tidak dapat memfilter bahwa itu ilham dari Allah atau tipuan dari Iblis karena memang Iblis telah mampu menampakkan wujudnya kepada manusia dengan perwujudan langit, Arsy, Laukh al Mahfudz, Kursi dan lain-lainnya, sebagaimana yang telah ditegaskan Imam Al- Ghozali yang telah dinuqil oleh Imam Abdul Wahhan As-Sya’roni dalam muqodimah Mizan Kubronya.
Lalu ukuran ajaran tersebut sesuai dengan Al-Qur’an atau Al-Hadits yang bagaimana? Padahal hampir semua ajaran mengatasnamakan sebagai ajaran Islam, aliran atau thoriqot mengaku sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadits ?
Perlu diketahui bahwa lafadz-lafadz dalam Al-Qur’an atau Al-Hadits memang masih elastis dapat kita artikan dengan interpretasi yang bermacam-macam. Namun bukan berarti ajaran Al-Qur’an boleh diartikan dengan interpretasi yang bermacam-macam dengan mengikuti hawa nafsu atau kepentingan kita masing-masing, tapi Al-Qur’an diartikan sebagaimana arti yang telah dijelaskan oleh Rasulullah Muhammad saw. karena Allah memberi jaminan dengan ayat-Nya bahwa Muhammad diutus oleh Allah juga untuk memperjelas kapada umat termasuk arti Al-Qur’an.
Lalu untuk mengetahui arti Al-Qur’an yang dijelaskan Rasulullah bagaimana caranya? Padahal arti Hadits sendiri kadang masih dapat diartikan dengan beberapa kemungkinan sebagaimana sabda Rasulullah dengan beberapa kemungkinan? Sebagaimana sabda Rasulullah: "Tidak ada pernikahan kecuali dengan wali".
Dapat diartikan dengan “pernikahan tidak sempurna tanpa wali, sebagaimana pendapat Imam Abu Hanifah. Dan juga dapat diartikan dengan “menikah tidak sah tanpa adanya wali”. Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Imam Syafi’i. Lalu yang sesuai yang mana?
Jawab: Perlu diketahui bahwa ajaran Al-Qur’an atau Al-Hadits ada yang bersifat qot’i (tidak dapat ditawar atas interpretasi lain), ada pula yang bersifat dzonni, (memang masih dimungkinkan arti yang lain dari dhohirnya lafad) yang ganti adalah interpretasi yang sudah disepakati seluruh umat islam satu periode yang sudah mempunyai kapasitas mujtahid. Contoh firman Allah tentang wajibnya sholat lima waktu, wajibnya zakat, Puasa, haji, wujudnya Allah, terutusnya Nabi Muhammad, wujudnya Malaikat dan lain-lain.
Memang firman Allah : "dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat". Asal mulanya lafadz sholat dapat diartikan dengan do’a atau yang lainnya. Lalu perintah sholat juga dapat diinterpretasikan dengan hanya himbauan yang sunah, jawaz atau wajib. Namun setelah ada konsensus pada Sahabat Nabi dan para Ulama’ sampai hari ini maka kita tidak diperbolehkan mengartikan selain sholat yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam dengan surat-surat yang terentu sebagaimana yang diajarkan dalam hadits: "shalatlah sebagaimana kalian melihatku shalat".
Demikian pula kita tidak dapat menginterpretasikan dengan hanya anjuran sunnah atau bahkan bebas.
Barang siapa yang punya aliran atau gerakan yang sampai tidak mempercayai hasil konsensus para Ulama’ sudah jelas dan mashur di kalangan masyarakat awam maka, orang yang beraliran tersebut telah dinyatakan keluar dari stambuk daftar sebagai orang islam, yakni mereka Adalah kufur sebagaimana aliran yang menganggap bahwa sholat hanya cukup di batin saja atau cukup hanya di dzikir.
Hadits yang diriwayatkan as-Syafi’i dari Abu Karimah Dari Abu Ja’far dari Nabi, Baliau bersabda:
"Orang-orang akan siarkan hadits-hadits dariku, maka apa yang datang kepadamu yang sesuai dengan Al-Qur’an maka hadits itu dariku, dan apa yang datang kepadamu yang berlawanan dengan Al-Quran maka hadits itu bukan dariku"
FILTER KEDUA : SANAD DAN TASAWWUF
Setelah aliran atau thoriqot tersebut tidak menyalahi dari aturan syari’at untuk mu’tabar dan tidaknya sebuah aliran atau thoriqot tersebut termasuk mempunyai sanad yang muttasil kepada Rosul atau tidak.;
1.Jika aurod-aurod tersebut tidak manqul dari Nabi atau pimpinan thoriqot (Mursyid) tidak mempunyai sanad yang muttasil kepada Nabi, maka thoriqot tersebut tidak mu’tabar, sebab dzikir yang warid dari Rosul lebih baik dari pada yang lainnya sekalipun tidak berbeda dengan syara’ sebagaimana da’i-da’i yang menyusun kalimat sendiri atau sholawat-sholawat yang dibikin sendiri.
2.Seseorang menyamakan thoriqoh yang silsilah guru-gurunya tidak muttasil kepada Nabi, maka akan terputus dari keloberan Nur Hidayah dari-Nya dan bukan Warosatul Anbia’ sebagaimana dalam kitab Tanwir al Qulub halaman 500 : "Barang siapa yang silsilah gurunya tidak sambung sampai pada Nabi Muhammad maka akan terputus dari keloberan Nur dan tidak dapat mewarisi Nur dari Nabi Rosul dan tidak dapat membai’at atau ijazah".
3.Semua guru yang diikuti jika ternyata salah sehingga menyimpang dari ajaran islam, maka mereka tidak dapat bertanggung jawab kepada pengikutnya. Oleh karenanya seseorang yang akan mengikuti sosok seorang guru harus menimbang pada guru tersebut dengan syari’at apakah guru tersebut, komitmen dengan syari’at apa tidak ? Karena siapun orangnya yang diikuti jika sampai melanggar syari’at maka ia tidak akan ikut bertanggung jawab atas perbuatan yang mengikutinya. Tapi masing-masing akan bertanggung jawab sendiri-sendiri kapada Allah di hari akhir nanti. Artinya jika aliran yang diikuti tersebut ternyata sesat maka yang diikutinya tidak dapat menyelamatkan para pengikutnya. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqoroh ayat 166-167 di atas. Di samping itu sanad yang muttasil pelaku thoriqot tersebut harus dilakukan dengan mengambil yang lebih berhati-hati sebagaimana keterangan dalam kitab Sulam al-Fudlola’:
Dengan kata lain Thoriqot dapat mu’tabar jika mengikuti sunnat ar rosul, menjauhi tidak melakukan yang azimah, menjauhi dari beberapa dipensasi (ruhksoh). Yang dikehendaki rukhsoh dalam hal ini adalah hal-hal yang seharusnya dijauhi oleh orang-orang yang menuju kapada Allah, sebagaimana mencari kesenangan nafsu, hal-hal yang mubah yang tidak ada unsur taqwa, berjalan selalu lupa kepada Allah, selalu kenyang dan lain-lain, bukan ruhksoh yang dimaksudkan para Fuqoha’, sabagiamana mengusap muzah, menqosor, menjama’, Syech Abdul Wahab As-Sya’roni menegaskan dalam kitab Minah as Sanniyah Halaman 4:
“Ulama’ ahli thoriqot telah konsensus bahwasannya seseorang yang menyiapkan dirinya untuk melakukan ruhsoh bukan yang aza’im maka orang tersebut tidak akan mendapat petunjuk jalan menuju kepada Allah”.
Maka seseorang disebut dengan ahli thoriqot yang mu’tabar jika ia sudah mendudukkan sunah sebagaimana sebagaimanq hal yang wajib, mendudukkan hal yang mubah ditinggalkan sebagaimana diperintahkan melakukan hal yang sunah atau lebih utama.
Catatan : Orang dapat dianggap melakukan thoriqoh yang benar manakala mereka dapat meletakkan hal yang sesuai dengan haknya.
Sebagaimana fatwa Salman Al-Farisi di hadapan Nabi dan dibenarkan oleh baginda Muhammad; "dan berikanlah kepada setiap orang haknya".
Dengan demikian pelaku thoriqot harus melihat sebenarnya ia diperintahkan apa dari Allah ? sebagaimana ditegaskan dalam Tanwir al-Qulub Halaman 401;
“Orang yang mnuju pada akhirat dengan menempuh jalan yang benar-benar dapat menuju pada Alloh tidak lepas dari enam macam tingkatan yakni; jalan baginya harus dengan ibadah
mahdloh, orang alim, muta’alim, penguasa pemenrintahan, pekerja dan atau mustaghriqun fi Al-Wahid Ash-Shomad”.
Bagi orang yang punya label muta’alim tidak boleh ingin pindah pada waalin atau sebaliknya, karena adanya pasrah terhadap tugas yang diberikan Alloh bukan memilih sendiri.
4.Terakhir ajaran tersebut dilakukan bukan untuk bagian nafsu, tapi semata-mata hanya untuk melakukan perintah Allah, karena semata ia menjadi hamba dengan demikian thoriqoh dianggap mu’tabar bila mendahulukan fardlu ain dari amalan yang sunah. Termasuk fardlu ain adalah berusaha menghilangkan sifat-sifat yang khobisah seperti ria’ , hasud, adu domba, ding dong gila harta, kedudukan, ujub dan lainnya. Nabi bersabda: "Dan lain-lain dari sifat-sifat yang tercela seperti ingin popular".
FILTER KETIGA : AQIDAH KEIMANAN
Aliran atau thoriqoh yang gerakannya muafiq dengan syari’at dan tasawwuf belum tentu mu’tabar sebelum kita tahu aqidah mereka, bagaimana keyakinan mereka terhadap Dzat-Nya Allah, sifat-Nya, pekerjaan-Nya sehingga tidak sampai keluar dari aqidah islam atau fasiq.
Filter-filter tersebut terkumpul pada kalimah; Lailaha Illa Allah Muhammadur rasulullah.
Syariat dari; Lailaha Illa Allah dengan tingkat makna; la ma'buda illah Allah.
Thoriqot dari; Lailaha Illa Allah dengan tingkat makna; la maqshuda illa Allah.
Hakikat dari ; Lailaha Illa Allah dengan tingkat makna; la maujuda illa Allah.
La ma'buda illah Allah: Hidup kita hanya mengabdi kepada Alloh.
La maqshuda illa Allah: Tujuan pengabdian kita hanya untuk Alloh bukan selain Alloh walau surga atau neraka.
la maujuda illa Allah: Secara substansinya bahwa yang menjadikan kita mengabdi hanya Alloh, bahkan wujud kita, pengabdian kita hanya wujud majazi. Sedangkan wujud hakiki hanya Alloh.

والله أعلم بالصواب —

SEKELUMIT TENTANG THORIQOH (TAREKAT)


PENDAHULUAN
Thoriqoh ( Tarekat ) menurut lughot mempuyai arti jalan. Sedangkan menurut istilah Tashawwuf: Thoriqoh bisa diartikan jalan yang ditempuh seorang hamba ( al-‘abdu ) menuju Ridlo Alloh SWT. Ada pula yang mempersempit pengertian Thoriqoh dengan mendefinisikannya sebagai jalan menuju Ma’rifat billah.
Melihat definisi diatas, maka jelas sekali bahwa pengertian Thoriqoh sangat luas. Thoriqoh tidak hanya dengan berdzikir saja, atau dengan berbagai bentuk wiridan saja, namun bisa juga dengan berbagai bentuk ibadah yang dapat mendekatkan diri kita kepada Alloh SWT. sang pencipta alam semesta. Bisa berupa wirid, dzikir, puasa, ta’lim ( mengajar ), ta’allum ( belajar ) dan berbagai bentuk amal kebajikan lainnya ( lihat Salalimul Fudlola’ ).
HADITS TENTANG SANAD TAREKAT
Mubaya‘ah (atau talqin dzikir) dalam dunia tarekat shufi dianggap tidak ada oleh sebagian orang. Dia berkeyakinan bahwa mubaya‘ah hanya bisa dilakukan oleh Rasulullah dan para khalifahnya. Sehingga apa yang dilakukan oleh mursyid tarekat yang mentalqin dzikir muridnya adalah tidak benar serta tidak sesuai dengan apa yang dilakukan pada zaman Rasulullah.
Sanad tentang dzikir tarekat juga menjadi kritikan dan hinaan mereka, orang-orang Wahhabi. Mereka menganggap bahwa tidak ada hadits tentang talqin dzikir atau mengenakan pakaian sederhana simbol shufi (lubsu al-khirqah), sebagai simbol seseorang yang sudah masuk dalam dunia shufi, yang dapat dibuat hujjah. Pernyataan bahwa tidak ada hadits yang dapat dijadikan hujjah tersebut mengutip dari pernyataan mayoritas para ahli hadits.
Perlu diketahui oleh mereka, mubaya’ah (baiat) dalam arti talqin dzikir dari seorang guru mursyid kepada muridnya bukan mubaya’ah (janji setia) seperti yang dilakukan oleh Rasulullah kepada shahabat-shahabatnya dalam Bai‘at ar-Ridhwan, atau baiatnya seorang rakyat kepada imam atau kepala Negara terpilih seperti baiatnya para shahabat yang mengangkat Sayyidina Abu Bakar menjadi khalifah Rasulallah. Sebab, mubaya’ah dalam tarekat shufi adalah bentuk talqin dzikir seperti yang dilakukan Rasulallah yang mentalqin dzikir para shahabatnya. Adapun mubaya’ah para shahabat yang baru saja disinggung di atas adalah mubaya’ah janji setia menjalankan Islam atau janji setia dan tunduk patuh kepada imam terpilih.
Sanad hadits tentang bai’at tarekat adalah hadits riwayat dari Hasan al-Bashri yang berbaiat dzikir dari Sayyidina Ali dari Rasulallah (dalam ilmu tasawuf disebut talqin zikir) dan sanad hadits tentang lubsul khirqah (berperilaku sebagai shufi yang bersimbol dengan pakaian sederhana) juga diriwayatkan dari Hasan al-Bashri dari Ali, hanya saja kedua hadits tersebut tidak pernah disebutkan dalam kitab hadits manapun, sehingga banyak para ahli hadits yang ingkar dan menilainya bathil. Penilaian para ahli hadits tersebut terletak pada masalah apakah Hasan al-Bashri pernah bertemu dengan Sayyidina Ali atau tidak. Dan menurut sebagian ahli hadits, keduanya tidak pernah bertemu. (Sanad talqin dzikir dari Hasan al-Bashri tersebut adalah talqin dzikir oleh Rasulallah kepada Sayyidina Ali secara sendirian. Sedangkan sanad talqin dzikir secara bersama-sama adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad, al-Bazzar, ath-Thabarani dan lain-lain dengan sanad hasan. Lihat Lawaqih al-Anwar al-Qudtsiyyah hlm. 11. Hadits talqin tersebut sebagaimana dikatakan asy-Sya'rani adalah diriwayatkan oleh Syaikh Yusuf al-Ajami, seorang syaikh tarekat, dalam salah satu risalahnya yang disebutkan dengan sanad yang muttasil sampai Sayyidina Ali. ).
Namun, sebenarnya hadits tentang dua masalah tersebut, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar al-‘Asqalani dan muridnya, as-Suyuthi adalah hadits yang shahih (muttasil) dan perawinya tsiqah-tsiqah. Artinya juga bahwa Hasan al-Bashri pernah bertemu dengan Sayyidina Ali dan itu adalah pendapat yang shahih. (Lihat hujjah-hujjah as-Suyuthi dalam membela pendapat bahwa Hasan al-Bashri pernah bertemu dengan Sayyidina Ali dalam al-Hawi lil Fatawi 2/96-98.dan Lawaqih al-Anwar al-Qudtsiyyah hal 12 dan 24.)
TAREKAT MU`TABAROH
Menurut keputusan Mu’tamar Thoriqoh Mu’tabaroh, bahwa Thoriqoh- Thoriqoh Mu’tabaroh hanya ada sekitar 43 ( empat puluh tiga ) Thoriqoh yaitu :
1. العمرية 2. النقشبندية 3. القادرية 4. الشاذلية
5. الرفاعية 6. الأحمدية 7. الداسوقية 8. الأكبرية
9. المولوية 10. الكبروية 11. السهروردية 12. الخلوتية
13. الجلوتية 14. البكداسية 15. الغزالية 16. الرومية
17. السعدية 18. الجشتية 19. الشعبانية 20. الكلشانية
21. الحمزاوية 22. البيرامية 23. العشاقية 24. البكرية
25. العيدروسية 26. العثمانية 27. العلوية 28. العباسية
29. الزينية 30. العيسوية 31. البحورية 32. الحدادية
33. الغيبية 34. الخضرية 35. الشطارية 36. البيومية
37. الملامية 38. الأويسية 39. الإدريسية 40. أكابرالأولياء
41. المبتولية 42. السنبلية 43. الخالدية والنقشبندية
44. أهل ملازمة القران والسنة ودلائل الخيرات وتعليم فتح القريب او كفاية العوام
Dan lain sebagainya.
Secara garis besar Thoriqoh Mu’tabaroh adalah Thoriqoh yang memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Mempunyai sanad yang muttasil kepada Rosululloh SAW. ( Tanwirul Qulub )
2. Tidak bertentangan dengan Syara’.
3. Mursyidnya ( Gurunya ) sudah memenuhi kriteria, antara lain:
a. Menguasai Ilmu Fiqh dan Ilmu Aqidah.
b. Mengetahui seluk beluk Ilmu Tashawwuf.
c. Mempunyai Akhlaq yang sempurna lahir dan batin.
d. Mendapatkan izin atau ijazah dari Gurunya.

TENTANG THORIQOH NAQSYABANDIYAH
( Oleh Imam Nawawi )
Dari segi historis, Tarekat Naqsyabandi dapat ditelusuri kembali kepada Khalifah pertama, Abu Bakar ash-Shiddiq RA, yang menggantikan Rasulullah SAW dalam hal pengetahuannya dan dalam hal membimbing umat Muslim. Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an, “Dialah orang kedua dari dua orang yang berada di dalam gua, dan ia berkata kepada temannya, janganlah bersedih hati, karena Allah SWT beserta kita” [QS. At-Taubah:40]. Tentang beliau, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Seandainya Aku akan memilih seorang teman yang kucintai, maka Aku akan memilih Abu Bakar RA sebagai temanku tercinta, namun beliau adalah saudara dan sahabatku.”
Yang membedakan Tarekat Naqsybandi dengan jalan Sufi yang lain adalah kenyataan bahwa ia memakai dasar-dasar serta prinsip-prinsip dari ajaran-ajaran dan contoh dari enam bintang cemerlang dalam khazanah Rasulullah SAW. Keenam sosok itu adalah: Abu Bakar ash-Shiddiq RA, Salman al-Farisi RA, Ja’far ash-Shadiq AS, Bayazid Tayfur al-Bistami QS, ‘Abdul Khaliq al-Ghujdawani QS, dan Muhammad Baha’uddin Uwaysi al-Bukhari QS, yang dikenal sebagai Syah Naqsyband QS—Imam dari tarekat ini.
Di balik kata “Naqsyaband” terdapat dua gagasan: naqsy yang berarti ‘mengukir’ dan mengandung pengertian mengukir Nama Allah SWT di dalam hati, dan band yang yang mengandung pengertian ‘ikatan’ dan mengindikasikan ikatan antara individu dengan Penciptanya. Ini berarti bahwa para pengikut Naqsybandi harus mempraktikan salat dan kewajiban-kewajiban lainnya berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW dan harus selalu menjaga kehadiran dan cinta Allah SWT agar senantiasa hidup dalam hatinya melalui pengalaman pribadi dari ikatan antara dirinya dengan Tuhannya.
Di samping Abu Bakar ash-Shiddiq RA, siapakah gerangan bintang-bintang dalam khazanah Rasulullah SAW ini? Salah satunya adalah Salman al-Farisi RA. Beliau berasal dari Isfahan, Persia dan beliaulah yang menyarankan kaum Muslimin untuk menggali parit dalam peperangan Ahzab. Setelah Kaum Muslimin merebut al-Mada’in, ibu kota Persia, beliau diangkat menjadi Pangeran dan gubernur kota tersebut hingga akhir hayatnya.
Bintang lainnya adalah Ja’far ash-Shadiq AS. Seorang keturunan Rasulullah SAW dari pihak ayahnya, dan Abu Bakar RA dari pihak ibunya, beliau menolak semua kedudukan terhormat sebagai penghormatan kembali dan praktik serta pelajaran spiritual. Beliau disebut sebagai “Pewaris dari Maqam an-Nubuwwa dan pewaris Maqam ash-Shiddiqiya.”
Kemunculan tertua istilah Safa yang tercatat adalah mengacu kepada muridnya, Jabir bin Ayyan RA, pada pertengahan abad kedua Hijriah. Beliau adalah seorang mufassir al-Qur’an atau ahli penerjemah, seorang ahli hadis, dan merupakan salah seorang mujtahid yang handal di kota Madinah. Tafsirnya sebagian diabadikan dalam Haqa’iq at-Tafsir Sulami. Layts bin Sa’d RA, salah seorang penutur riwayat Sunnah Rasulullah SAW yang terpercaya, menyaksikan kekuatan mukjizat Ja’far AS di mana beliau mampu meminta apa saja, dan Allah SWT akan mengabulkannya seketika.
Bintang lainnya adalah Bayazid Tayfur al-Bistami QS yang kakeknya seorang Zoroastrian. Bayazid QS membuat suatu studi yang rinci tentang hukum-hukum Islam (syari’at) yang telah dibukukan dan melaksanakan suatu praktik latihan yang ketat tentang penyangkalan diri sendiri. Beliau dikenal rajin sepanjang usianya dalam hal mengerjakan kewajiban-kewajiban keagamaannya. Beliau mengharuskan murid-muridnya untuk bertawakal dan menyuruh mereka untuk menerima dengan ikhlas konsep murni tauhid, ilmu tentang Keesaan Allah SWT. Konsep ini, menurut beliau, meletakkan lima kewajiban pada keikhlasan untuk :
§Menjalankan kewajiban sesuai al-Qur’an dan Sunnah.
§Selalu berkata benar.
§Menjaga hati dari kebencian.
§Menghindari makanan haram.
§Menjauhi bid’ah (dlolalah).
Menurut Bayazid QS, tujuan akhir dari para pengikut Sufi adalah untuk mengenal Allah SWT di dunia ini, untuk meraih Hadirat-Nya, dan bertemu dengan-Nya di Hari Kemudian. Terhadap pengaruh itu, beliau menambahkan, “Ada hamba-hamba Allah SWT yang khusus, yang bila Allah SWT menghalangi mereka dari Pandangannya di Surga, maka mereka akan memohon kepada-Nya untuk mengeluarkan mereka dari Surga sebagaimana penduduk Neraka akan mengiba memohon dikeluarkan dari Neraka.”
Satu bintang lagi dalam khazanah Rasulullah SAW adalah ‘Abdul Khaliq al-Ghujdawani QS, yang lahir di kampung Ghujdawani, di dekat Bukhara, Uzbekistan sekarang. Beliau dibesarkan dan dimakamkan di sana. Beliau mempelajari al-Qur’an dan ilmu-ilmu keislaman baik ilmu lahir maupun batin hingga beliau mencapai suatu maqam kesucian yang amat tinggi. Kemudian beliau pergi ke Damaskus di mana Beliau mendirikan sekolah yang melahirkan banyak lulusan yang lalu menjadi ahli ilmu fiqih dan hadis di samping juga ahli dalam hal spiritualitas di masanya, baik di wilayah Asia Tengah maupun di Timur Tengah.
‘Abdul Khaliq QS melanjutkan pekerjaan para pendahulunya dengan membentuk zikir yang diwariskan dari Rasulullah SAW berdasarkan Sunnah. Dalam tulisan-tulisannya, beliau juga merumuskan adab yang diharapkan dapat diikuti oleh murid-murid Naqsybandiyyah.
Tulisan dibawah ini ane copas dari Artikel Syekh Janggut
Amin Al Kurdi menjelaskan ada 11 (sebelas) dasar ajaran Tarikat Naqsyabandiyah, yaitu :
1). “Huwasy Dardam” , yaitu pemeliharaan keluar masuknya nafas, supaya hati tidak lupa kepada Allah SWT atau tetap hadirnya Allah SWT pada waktu masuk dan keluarnya nafas. Setiap murid atau salik menarikkan dan menghembuskan nafasnya, hendaklah selalu ingat atau hadir bersama Allah di dalam hati sanubarinya. Ingat kepada Allah setiap keluar masuknya nafas, berarti memudahkan jalan untuk dekat kepada Allah SWT, dan sebaliknya lalai atau lupa mengingat Allah, berarti menghambat jalan menuju kepada- Nya.
2). “Nazhar Barqadlam” yaitu setiap murid atau salik dalam iktikaf/suluk bila berjalan harus menundukkan kepala, melihat ke arah kaki dan apabila dia duduk dia melihat pada kedua tangannya. Dia tidak boleh memperluas pandangannya ke kiri atau ke kanan, karena dikhawatirkan dapat membuat hatinya bimbang atau terhambat untuk berzikir atau mengingat Allah SWT. Nazhar Barqadlam ini lebih ditekankan lagi bagi pengamal tarikat yang baru suluk, karena yang bersangkutan belum mampu memelihara hatinya.
3). “Safar Darwathan” yaitu perpindahan dari sifat kemanusiaan yang kotor dan rendah, kepada sifat-sifat kemalaikatan yang bersih dan suci lagi utama. Karena itu wajiblah bagi si murid atau salik mengontrol hatinya, agar dalam hatinya tidak ada rasa cinta kepada makhluk.
4). “Khalwat Daranjaman” yaitu setiap murid atau salik harus selalu menghadirkan hati kepada Allah SWT dalam segala keadaan, baik waktu sunyi maupun di tempat orang banyak. Dalam Tarikat Naqsyabandiyah ada dua bentuk khalwat :
a. Berkhalwat lahir, yaitu orang yang melaksanakan suluk dengan mengasingkan diri di tempat yang sunyi dari masyarakat ramai.
b. Khalwat batin, yaitu hati sanubari si murid atau salik senantiasa musyahadah, menyaksikan rahasia- rahasia kebesaran Allah walaupun berada di tengah- tengah orang ramai.
5). “Ya Dakrad” yaitu selalu berkekalan zikir kepada Allah SWT, baik zikir ismus zat (menyebut Allah, Allah,.), zikir nafi isbat (menyebut la ilaha ilallah), sampai yang disebut dalam zikir itu hadir.
6). “Bar Kasyat” yaitu orang yang berzikir nafi isbat setelah melepaskan nafasnya, kembali munajat kepada Allah dengan mengucapkan kalimat yang mullia
“Wahai Tuhan Allah, Engkaulah yang aku maksud (dalam perjalanan rohaniku ini) dan keridlaan-Mulah yang aku tuntut”. Sehingga terasa dalam kalbunya rahasia tauhid yang hakiki, dan semua makhluk ini lenyap dari pemandangannya.
7).“Nakah Dasyat” yaitu setiap murid atau salik harus memelihara hatinya dari kemasukan sesuatu yang dapat menggoda dan mengganggunya, walaupun hanya sebentar. Karena godaan yang mengganggu itu adalah masalah yang besar, yang tidak boleh terjadi dalam ajaran dasar tarikat ini.
Syekh Abu Bakar Al Kattani berkata, “Saya menjaga pintu hatiku selama 40 (empat puluh) tahun, aku tiada membukakannya selain kepada Allah SWT, sehingga menjadilah hatiku itu tidak mengenal seseorang pun selain daripada Allah SWT.”
Sebagian ulama tasawuf berkata “Aku menjaga hatiku 10 (sepuluh) malam, maka dengan itu hatiku menjaga aku selama 20 (duapuluh) tahun.”
8).“Bad Dasyat” yaitu tawajuh atau pemusatan perhatian sepenuhnya pada musyahadah, menyaksikan keindahan, kebesaran, dan kemuliaan Allah SWT terhadap Nur Zat Ahadiyah (Cahaya Yang Maha Esa) tanpa disertai dengan kata- kata. Keadaan “Bad Dasyat” ini baru dapat dicapai oleh seorang murid atau salik, setelah dia mengalami fana dan baka yang sempurna. Adapun tiga ajaran dasar yang berasal dari Bahauddin Naqsyabandi adalah,
9).“Wuquf Zamani” yaitu kontrol yang dilakukan oleh seorang murid atau salik tentang ingat atau tidaknya ia kepada Allah SWT setiap dua atau tiga jam. Jika ternyata dia berada dalam keadaan ingat kepada Allah SWT pada waktu tersebut, ia harus bersyukur dan jika ternyata tidak, ia harus meminta ampun kepada Allah SWT dan kembali mengingat- Nya.
10).“Wuquf ‘Adadi” yaitu memelihara bilangan ganjil dalam menyelesaikan zikir nafi isbat, sehingga setiap zikir nafi isbat tidak diakhiri dengan bilangan genap. Bilangan ganjil itu, dapat saja 3 (tiga) atau 5 (lima) sampai dengan 21 (duapuluh satu), dan seterusnya.

11).“Wuquf Qalbi” yaitu sebagaimana yang dikatakan oleh Syekh Ubaidullah Al- Ahrar, “Keadaan hati seorang murid atau salik yang selalu hadir bersama Allah SWT”. Pikiran yang ada terlebih dahulu dihilangkan dari segala perasaan, kemudian dikumpulkan segenap tenaga dan panca indera untuk melakukan tawajuh dengan mata hati yang hakiki, untuk menyelami